Rabu, 16 Januari 2013

Sejarah Nabi Muhammad SAW ( 29 )...............

Muhammad dan Ahli Kitab - Kedudukannya di kalangan orang-orang Nasrani - Keramahannya terhadap mereka - Mengalirnya perutusan - Kesatuan Arab di bawah Islam - Islamnya Ahli Kitab - Perutusan terakhir ke Medinah - Persiapan Nabi naik haji - Perjalanan kaum Muslimin ke Haji - Ihram dan Talbiah - Melepaskan Umrah - Ali kembali dari Yaman - Khotbah 'Arafat - Catatan kaki.




Muhammad dan Ahli Kitab          
SEJAK Ali b. Abi Talib membacakan awal Surah Bara'ah kepada orang-orang yang pergi haji, yang terdiri dari orang-orang Islam dan musyrik, waktu Abu Bakr memimpin jemaah haji, dan sejak ia mengumumkan kepada mereka atas perintah Muhammad waktu mereka berkumpul di Mina, bahwa orang kafir tidak akan masuk surga, dan sesudah tahun ini orang musyrik tidak boleh lagi naik haji, tidak boleh lagi bertawaf di Ka'bah dengan telanjang, dan barangsiapa terikat oleh suatu perjanjian dengan Rasulullah s.a.w. itu tetap berlaku sampai pada waktunya - sejak itu pula orang-orang musyrik penduduk jazirah Arab semua yakin sudah, bahwa buat mereka tak lagi ada tempat untuk terus hidup dalam paganisma. Dan kalau masih juga mereka melakukan itu, ingatlah, akan pengumuman perang dari Allah dan RasulNya. Hal ini akan berlaku buat penduduk daerah selatan jazirah Arab, yaitu Yaman dan Hadzramaut; sebab buat daerah Hijaz dan sekitarnya sampai ke utara mereka sudah masuk Islam dan bernaung di bawah bendera agama baru ini. Di bagian selatan itu sebenarnya masih terbagi antara penganut paganisma, dengan penganut Kristen. Tetapi orang-orang pagan ini kemudian menerima juga, seperti yang sudah kita lihat di atas. Secara berbondong bondong mereka masuk Islam, mereka mengirim utusan ke Medinah, dan Nabi pun menyambut mereka dengan sangat baik sekali, yang kiranya membuat mereka lebih gembira lagi menerima Islam. Sebagian besar mereka kembali ke daerah kekuasaan mereka masing-masing dan ini membuat mereka lebih cinta lagi kepada agama baru ini.

Mengenai Ahli Kitab yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, ayat-ayat yang telah dibacakan oleh Ali dari Surah At-Taubah demikian bunyinya:

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak pula beragama menurut agama yang benar, yaitu orang-orang yang sudah mendapat Al-Kitab, sampai mereka membayar. jizya dengan patuh dalam keadaan tunduk."1 sampai kepada firman Tuhan:

"Orang-orang beriman! Banyak sekali para pendeta dan rahib-rahib memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka merintangi orang dari jalan Allah. Dan mereka yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, beritahukanlah kepada mereka adanya siksa yang pedih. Tatkala semuanya dipanaskan dalam api jahanam, lalu dengan itu dahi mereka, lambung mereka dan punggung mereka dibakar. 'Inilah harta bendamu yang kamu timbun untuk dirimu sendiri. Sebab itu, rasakan sekarang akibat apa yang kamu timbun itu." (Qur'an, 9: 34 - 35)

Menghadapi ayat-ayat Surah At-Taubah sebagai wahyu penutup dalam Quran itu, banyak ahli-ahli sejarah yang bertanya-tanya dalam hati: apakah perintah Muhanmnmad 'a.s. mengenai Ahli Kitab itu berbeda dengan perintahnya dulu ketika baru-baru ia membawa ajarannya? Beberapa Orientalis lalu berpendapat bahwa ayat-ayat ini hendak menempatkan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik dalam kedudukan yang hampir sama; dan bahwa Muhammad, yang sudah berhasil mengalahkan paganisma di seluruh jazirah, setelah meminta bantuan pihak Yahudi dan Nasrani, dengan menyatakan pada tahun-tahun pertama risalahnya itu, bahwa ia datang membawa agama Isa, Musa, Ibrahim dan rasul-rasul Iain yang sudah lebih dulu, telah mengarahkan sasarannya kepada orang-orang Yahudi, yang sudah lebih dulu menghadapinya dengan permusuhan. Mereka tetap bersikap demikian, sampai akhirnya mereka diusir dari jazirah. Sementara itu ia hendak mengambil mati orang-orang Nasrani, lalu turun ayat-ayat yang memperkuat iman mereka yang baik, sehingga datang firman Tuhan ini:

"Pasti akan kaudapati orang-orang yang paling keras memusuhi mereka yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik dan pasti akan kaudapati orang-orang yang paling akrab bersahabat dengan mereka yang beriman ialah mereka yang berkata: 'Kami ini orang-orang Nasrani.' Sebab, diantara mereka terdapat kaum pendeta dan rahib-rahib, dan mereka itu tidak menyombongkan diri." (Qur'an, 5: 82)

Kedudukannya di kalangan orang-orang Nasrani          
Nah, sekarang ia mengarahkan tujuannya kepada pihak Nasrani, sama seperti yang dulu ditujukan kepada pihak Yahudi. Orang-orang Nasrani digolongkan kedalam mereka yang tidak percaya kepada Tuhan dan kepada Hari Kemudian. Ia melakukan hal itu setelah pihak Nasrani memberikan perlindungan kepada pengikut-pengikutnya kaum Muslimin ketika mereka dulu pergi ke Abisinia di bawah naungan rajanya yang adil, dan setelah pula Muhammad menulis surat kepada penduduk Najran dan kaum Nasrani lainnya dengan menjamin agama mereka dan segala upacara keagamaan yang mereka lakukan. Lalu golongan Orientalis itu berpendapat bahwa sikap kontradiksi dalam siasat Muhammad inilah yang kemudian membuat permusuhan antara pihak Muslimin dengan Nasrani itu jadi berlarut-larut, dan bahwa dia pula yang membuat saling pendekatan antara pengikut-pengikut Yesus dengan pengikut-pengikut Muhammad jadi tidak begitu mudah, kalau pun tidak akan dikatakan mustahil.

Mengambil argumen ini secara mendatar adakalanya dapat memikat orang bahwa itu ada juga benarnya, atau pun dapat memikat orang sampai mempercayainya. Akan tetapi bila orang mau mengikuti jalur sejarah mau menelitinya sehubungan dengan masalah-masalah dan sebab-sebab turunnya ayat-ayat itu, samasekali orang tidak perlu sangsi tentang kesatuan sikap Islam dan sikap Muhammad terhadap agama-agama Kitab sejak dari permulaan risalah itu sampai akhirnya. Almasih anak Mariam ialah Hamba Allah yang diberiNya kitab, dijadikanNya ia seorang nabi, dijadikannya ia orang yang beroleh berkah dimana pun ia berada! diperintahkanNya ia melakukan sembahyang, mengeluarkan zakat selama ia masih hidup. Itulah yang telah diturunkan oleh Qu'ran sejak dari permulaan risalah sampai akhirnya. Allah cuma Satu. Allah itu Abadi dan Mutlak. Tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada suatu apa pun yang meyerupaiNya. Itulah jiwa dan dasar Islam sejak dari langkah pertama, dan itu pula jiwa Islam selama dunia ini berkembang.

Orang-orang Nasrani Najran pernah mendatangi Nabi hendak mengajaknya berdebat tentang Tuhan dan tentang kenabian Isa terhadap Tuhan jauh sebelum Surah At-Taubah ini turun. Mereka bertanya kepada Muhammad:
"Ibu Isa itu Mariam; lalu siapa bapanya?"

Untuk itu datang firman Allah: "Hal seperti terhadap Adam; dijadikanNya ia dari tanah lalu dikatakan: 'jadilah,' maka jadilah ia. Kebenaran itu datangnya hanya dari Tuhan. Jangan kau jadi orang yang sangsi. Barangsiapa mengajak engkau berdebat tentang Dia setelah engkau mendapat pengetahuan, katakanlah: 'Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami sendiri dan diri kamu; kemudian kita berdoa supaya laknat Tuhan itu ditimpakan kepada yang berdusta.' Inilah kisah kisah sebenarnya: tiada tuhan selain Allah. Dan Allah sungguh Maha Kuasa dan Bijaksana. Kalau pun mereka menyimpang juga, Tuhan jua yang mengetahui mereka yang berbuat bencana. Katakanlah: 'Orang-orang Ahli Kitab! Marilah kita menerima suatu istilah yang sama antara kami dengan kamu; bahwa tak ada yang akan kita sembah selain Allah, dan bahwa kita takkan mempersekutukanNya dengan apa pun, dan tidak pula antara kita akan saling mempertuhan satu sama lain, selain daripada Allah.' Tetapi kalau mereka menyimpang juga, katakanlah: 'Saksikanlah, bahwa kami ini orang-orang Muslimin." (Qur'an, 3: 59 - 64)

Percakapan dalam surah ini, Surah Keluarga 'Imran dengan gaya bahasa yang luarbiasa, ditujukan kepada Ahli Kitab, menegur mereka mengapa mereka merintangi orang beriman dari jalan Allah dan mengapa mereka mengingkari ayat-ayat yang datang dari Tuhan, padahal ayat-ayat itu juga yang dibawa oleh Isa, oleh Musa, oleh Ibrahim, sebelum kata-kata itu diubah-ubah dan sebelum diartikan menurut kehendak nafsu sendiri disesuaikan dengan kehidupan duniawi dengan kesenangan yang penuh tipu daya. Banyak lagi surah-surah lain, yang dalam kata-katanya ditujukan seperti yang terdapat dalam surah Keluarga 'Imran itu. Dalam Surah al-Ma'idah (5) Tuhan berfirman:

"Sebenarnya mereka telah melakukan penyhinaan (terhadap Tuhan), mereka yang mengatakan, bahwa Allah satu dari tiga dalam trinitas. Tak ada tuhan kecuali Tuhan Yang Satu. Apabila tidak mau juga mereka berhenti (menghina Tuhan), pasti mereka yang telah merendahkan (Tuhan) itu akan dijatuhi siksaan yang amat pedih. Tidakkah mereka mau bertaubat kepada Tuhan dan meminta ampun. Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Sebenarnya Almasih putera Mariam itu hanya seorang rasul, dan ibunya adalah wanita yang tulus dan jujur, keduanya memakan makanan. Perhatikanlah, betapa Kami menjelaskan ayat-ayat itu kepada mereka, lalu perhatikanlah, bagaimana mereka sampai dipalingkan?" (Qur'an,5:73 - 75)

Kemudian dalam Surah al-Ma'idah itu juga Tuhan berfirman:

"Dan ingat ketika Allah berkata: 'Hai Isa anak Mariam! engkaukah yang mengatakan kepada orang: Allah mengangkatku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?' Ia menjawab: 'Maha Suci Engkau, tidak akan aku mengatakan yang bukan menjadi hakku. Kalau pun aku mengatakannya, tentu Engkau sudah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam hatiku, tapi aku tidak mengetahui apa yang ada didalam DiriMu." (Qur'an, 5: 116)

sampai pada ayat-ayat selanjutnya seperti sudah kita nukilkan dalam pengantar buku ini. Salah satu ayat dalam Surah al-Ma'idah inilah yang oleh penulis-penulis sejarah Kristen dipersoalkan dan dijadikannya alasan tentang perkembangan sikap Muhammad terhadap mereka sesuai dengan perkembangan politiknya, yaitu ketika Tuhan berfirman:

"Pasti akan kau dapati orang-orang yang paling keras memusuhi mereka yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik; dan pasti akan kaudapati orang-orang yang paling akrab bersahabat dengan mereka yang beriman ialah mereka yang berkata: 'Kami ini orang-orang Nasrani.' Sebab, diantara mereka terdapat kaum pendeta dan rahib-rahib, dan mereka itu tidak menyombongkan diri." (Qur'an, 5: 82)

Sebaliknya, ayat-ayat yang terdapat dalam Surah Bara'ah (9) yang juga bicara tentang Ahli Kitab sekali-kali tidak membicarakan kepercayaan mereka mengenai Almasih anak Mariam itu. Ayat-ayat itu bicara tentang kelakukan mereka mempersekutukan Tuhan, makan harta orang secara tidak sah serta menimbun emas dan perak. Sedang menurut Islam Ahli Kitab itu sudah keluar dari rel agama Isa, mereka menghalalkan apa yang dilarang oleh Tuhan dan melakukan perbuatan orang yang tidak beriman kepada Tuhan dan Hari Kemudian. Tetapi sungguh pun demikian - lepas dari semua itu - keimanan mereka kepada Tuhan sudah menjadi jembatan buat mereka untuk tidak dipersamakan dengan orang-orang pagan. Buat mereka yang masih gigih mau menjadikan Tuhan satu dari tiga dalam trinitas dan mau menghalalkan apa yang dilarang Tuhan, cukup dengan membayar jizya dengan taat dan patuh.

Keramahannya terhadap mereka          
Seruan yang telah disampaikan oleh Ali tatkala Abu Bakr memimpin jamaah haji itu merupakan puncak dari masuknya penduduk jazirah bagian selatan kedalam Islam secara berbondong-bondong. Utusan-utusan itu secara berturut-turut telah datang ke Medinah seperti sudah kita sebutkan - diantaranya perutusan dari orang-orang musyrik dan dari Ahli Kitab. Nabi memberi hormat secukupnya kepada setiap utusan yang datang dan para amir itu dikembalikan ke daerah kekuasaan mereka dengan cara terhormat sekali. Hal ini sudah kita sebutkan dalam bagian yang lalu. Asy'ath b. Qais dengan memimpin 80 orang dari Kinda dengan berkendaraan, mereka datang kepada Nabi dalam mesjid, dengan berhias rambut, bercelak mata, mengenakan jubah yang indah-indah dan berselempang sutera. Begitu melihat mereka, Nabi berkata:

"Bukankah kamu sudah menjadi Islam?"

"Ya," jawab mereka.

"Buat apa kamu mengenakan sutera ini di leher?" kata Nabi lagi.

Mereka lalu melepaskan sutera itu.

"Rasulullah," kata Asy'ath kemudian, "kami dari Keluarga Akil'l-Murar2 dan tuan juga dari keturunan Akil'l-Murar."

Mendengar itu Nabi tersenyum. Ia teringat pada 'Abbas bin 'Abd'l-Muttalib dan Rabi'a bin'l-Harith

Bersama dengan Asy'ath itu juga datang Wa'il b. Hujr al-Kindi, seorang amir dari daerah pantai di Hadzramaut. Ia kemudian masuk Islam. Nabi mengakui daerah kekuasaannya itu dan dimintanya ia memungut 'usyr dari penduduk untuk diserahkan kepada pemungut-pemungut pajak yang sudah ditunjuk oleh Rasul. Dalam hal ini Nabi menugaskan Mu'awiya b. Abi Sufyan menemani Wa'il ke negerinya. Tetapi Wa'il tidak mau sekendaraan dengan dia dan tidak pula mau memberikan kepadanya alas kaki. Sekedar dapat menahan panasnya musim, cukup dengan membiarkan dia berjalan di bawah naungan untanya. Meskipun ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan persamaan antara sesama kaum Muslimin dan semua orang Islam bersaudara, namun Mu'awiya menerimanya juga demi menjaga Islamnya Wa'il dan golongannya.

Mengalirnya perutusan          
Setelah Islam tersiar di kawasan Yaman, Nabi mengutus Mu'adh (b. Jabal) ke daerah itu untuk memberikan pelajaran kepada penduduk serta untuk memperdalam hukum Islam, dengan pesan: "Permudahlah dan jangan dipersulit. Gembirakan dan jangan ditakut-takuti. Engkau akan bertemu dengan golongan Ahli Kitab yang akan bertanya kepadamu: 'Apa kunci surga?' Maka jawablah: 'Suatu kesaksian, bahwa tak ada tuhan selain Allah Yang tiada bersekutu."

Mu'adh pun berangkat, disertai beberapa orang dari kalangan Muslimin yang mula-mula dan yang bertugas mengurus 'usyr, serta memberikan pelajaran dan menjalankan hukum sesuai dengan perintah Tuhan dan Rasul.

Dengan tersebarnya Islam di seluruh kawasan jazirah itu - dari timur sampai ke barat, dari utara sampai ke selatan - maka seluruh lingkungan itu telah menjadi satu di bawah satu panji, yaitu panji Muhammad Rasulullah s.a.w. dan berada dalam satu agama yaitu Islam, jantung mereka pun hanya satu pula arahnya, yaitu menyembah Allah Yang Tunggal tiada bersekutu.

Kesatuan Arab di bawah Islam          
Sebelum duapuluh tahun yang lalu, kabilah-kabilah itu saling bermusuhan, satu sama lain serang menyerang dalam peperangan, setiap ada kesempatan. Tetapi dengan penggabungan mereka dibawah panji Islam ini; mereka telah menjadi bersih dari segala noda paganisma, mereka hidup tenteram dibawah undang-undang Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian permusuhan di kalangan penduduk itu sudah tak ada lagi. Perang dan permusuhan sudah tidak punya tempat. Sudah tak ada lagi orang yang akan menghunus pedang, kecuali jika hendak mempertahankan tanah air, membela agama Allah dari serangan pihak lain.

Islamnya Ahli Kitab          
Akan tetapi masih ada sekelompok orang-orang Nasrani Najran yang masih berpegang pada agama mereka, yang berbeda dengan sebagian besar masyarakat mereka sendiri, yaitu Banu Harith yang sudah lebih dahulu masuk Islam. Kepada mereka ini Nabi mengutus Khalid bin'l-Walid mengajak mereka menganut Islam supaya terhindar dari serbuannya. Tetapi begitu diserukan mereka sudah mau masuk Islam. Khalid kemudian mengirim utusan dari kalangan mereka sendiri ke Medinah supaya menemui Nabi, yang kemudian disambutnya dengan ramah dan akrab sekali. Disamping itu ada lagi sekelompok masyarakat Yaman yang masih merasa enggan sekali tunduk di bawah panji Islam, sebab Islam lahir di Hijaz, sedang biasanya Yaman yang menyerbu Hijaz. Sebaliknya, sebelum itu Hijaz tidak yernah menyerang Yaman.

Perutusan terakhir ke Medinah          
Kepada mereka ini Nabi mengutus Ali b. Abi Talib dengan tugas mengajak mereka ke dalam Islam. Juga pada mulanya mereka sangat congkak sekali. Menyambut ajakan Ali dengan menyerangnya. Akan tetapi Ali - dengan usianya yang masih begitu muda dan hanya membawa tiga ratus orang - sudah dapat membuat mereka cerai-berai. Pihak penyerang yang sudah dipukul mundur itu kembali menyusun lagi barisannya. Akan tetapi Ali segera mengepung mereka sehingga timbul panik dalam barisan mereka itu. Tak ada jalan lain mereka harus menyerah. Dengan demikian kemudian mereka masuk Islam dan menjadi orang Islam yang baik. Semua pelajaran yang diberikan oleh Mu'adh dan sahabat-sahabatnya mereka dengarkan baik-baik. Utusan mereka ini merupakan utusan terakhir yang diterima Nabi di Medinah sebelum Nabi berpulang ke rahmatullah.

Persiapan Nabi naik haji          
Sementara Ali sedang bersiap-siap kembali ke Mekah, Nabi pun sedang dalam persiapan pula hendak menunaikan ibadah haji, dan dimintanya orang juga bersiap-siap. Bulan berganti bulan dan bulan Zulkaedah pun sudah pula hampir lalu. Nabi belum lagi melakukan ibadah haji akbar meskipun sebelum itu sudah dua kali mengadakan 'umrah dengan melakukan ibadah haji ashghar.3

Dalam ibadah haji ada suatu manasik (upacara) yang dalam hal ini Nabi 'a.s. adalah contoh bagi umat Islam. Begitu orang mengetahui benar Nabi telah menetapkan akan pergi haji dan mengajak mereka ikut serta, tersiarlah ajakan itu ke segenap penjuru semenanjung. Beribu-ribu orang datang ke Medinah dari segenap penjuru: dari kota-kota dan dari pedalaman, dari gunung-gunung dan dari sahara, dari semua pelosok tanah Arab yang membentang luas, yang sekarang sudah bersinar dengan cahaya Tuhan dan cahaya Nabi yang mulia itu. Di sekitar kota Medinah sudah pula dipasang kemah-kemah untuk seratus ribu orang atau lebih, yang datang memenuhi seruan Nabi, Rasulullah s.a.w. Mereka datang sebagai saudara untuk saling kenal-mengenal, mereka dipertalikan semua oleh rasa kasih-sayang, oleh keikhlasan hati dan oleh ukhuah islamiah, yang dalam tahun-tahun sebelum itu mereka saling bermusuhan. Manusia yang berjumlah ribuan itu kini sedang melihat-lihat kota, masing-masing dengan bibir tersenyum, dengan wajah yang cerah dan berseri-seri. Berkumpulnya mereka itu menggambarkan adanya suatu kebenaran yang telah mendapat kemenangan, Nur Ilahi telah tersebar luas, yang membuat mereka semua teguh bersatu seperti sebuah bangunan yang kukuh.

Perjalanan kaum Muslimin ke Haji          
Pada 25 Zulkaedah tahun kesepuluh Hijrah Nabi berangkat dengan membawa semua isterinya, masing-masing dalam hodahnya. Ia berangkat dengan diikuti jumlah manusia yang begitu melimpah - penulis-penulis sejarah ada yang menyebutkan 90.000 orang dan ada pula yang menyebutkan 114.000 orang. Mereka berangkat dibawa oleh iman, jantung mereka penuh kegembiraan, penuh keikhlasan, menuju ke Baitullah yang suci. Mereka hendak menunaikan kewajiban ibadah haji besar.

Ihram dan Talbiah          
Bilamana mereka sampai di Dhu'l-Hulaifa, mereka berhenti dan tinggal selama satu malam di sana. Keesokan harinya, bila Nabi sudah mengenakan pakaian ihram kaum Muslimin yang lain juga memakai pakaian ihram. Mereka semua masing-masing mengenakan kain selubung bagian bawah dan atas. Mereka berjalan semua dengan pakaian yang sama, yaitu pakaian yang sangat sederhana. Dengan demikian mereka telah melaksanakan suatu persamaan dalam arti yang sangat jelas.

Dengan seluruh kalbu Muhammad telah menghadapkan diri kepada Tuhan dengan mengucapkan talbiah yang diikuti pula oleh kaum Muslimin dari belakang: "Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaika. Alhamdu lillah wan-ni'matu wa'sy-syukru laka labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika." ("Kupenuhi panggilanMu, ya Allah, kupenuhi panggilanMu. Kupenuhi panggilanMu. Tiada bersekutu Engkau. Kupenuhi panggilanMu. Puji, nikmat dan syukur kepunyaanMu. Kupenuhi panggilanMu, kupenuhi panggilanMu, tiada bersekutu Engkau. Kupenuhi panggilanMu.")

Lembah-lembah dan padang sahara bersahut-sahutan menyambut seruan ini, semua turut berseru dengan penuh iman. Ribuan, ya puluhan ribu kafilah itu menyusuri jalan antara Madinat'r-Rasul dengan Kota Mesjid Suci. Ia berhenti pada setiap mesjid, menunaikan kewajiban sambil menyerukan talbiah, sebagai tanda taat dan syukur atas nikmat Allah. Dengan penuh kesabaran ia menantikan saat ibadah haji akbar itu tiba. Dengan hati rindu, dengan jantung berdetak penuh cinta akan Baitullah. Padang-padang pasir seluruh jazirah, gunung-gunung, lembah-lembah dan padang tanaman yang segar menghijau, terkejut mendengarnya, dengan kumandangnya yang bersahut-sahutan; suatu hal yang belum pernah dikenal, sebelum Nabi yang ummi ini, Rasul dan Hamba Allah ini datang memberkahinya.

Melepaskan Umrah          
Tatkala rombongan itu sampai di Sarif - suatu tempat antara jalan Mekah dengan Medinah - Muhammad berkata kepada sahabat-sahabatnya:

"Barangsiapa diantara kamu tidak membawa binatang kurban dan ingin menjadikan (ihram) ini sebagai umrah, lakukanlah; tetapi yang membawa binatang kurban jangan."

Bilamana jamaah haji sudah sampai di Mekah pada hari keempat Zulhijjah, Nabi cepat-cepat menuju Ka'bah diikuti oleh kaum Muslimin yang lain. Kemudian ia menyentuh hajar aswad dan menciumnya, lalu bertawaf di Ka'bah sebanyak tujuh kali dan pada tiga kali yang pertama ia berlari-lari seperti yang dilakukan pada waktu 'umrat'l-qadza'. Setelah melakukan salat di Maqam Ibrahim ia kembali dan sekali lagi mencium hajar aswad. Kemudian ia keluar dari mesjid itu menuju ke sebuah bukit di Shafa, lalu melakukan sa'i antara Shafa dan Marwa. Selanjutnya Muhammad berseru supaya barangsiapa tidak membawa ternak kurban untuk disembelih, jangan terus mengenakan pakaian ihram. Ada beberapa orang yang masih ragu-ragu. Atas sikap yang masih ragu-ragu ini Nabi marah sekali seraya katanya

"Apa yang kuperintahkan, lakukanlah."

Dalam keadaan masih gusar itu Nabi memasuki kubahnya, sehingga Aisyah bertanya:

"Kenapa jadi marah?"

"Bagaimana takkan marah, aku memerintahkan sesuatu tidak dijalankan."

Ketika ada salah seorang sahabat menemuinya ia masih dalam keadaan marah.

"Rasulullah," katanya, "orang yang membuat tuan jadi marah akan masuk neraka."

Ketika itu Rasul menjawab: "Tidak kau ketahui, bahwa aku memerintahkan sesuatu kepada mereka tapi mereka masih ragu-ragu? Jika aku menghadapi tugasku, aku takkan pernah mundur! Aku tidak membawa ternak kurban itu kemari sebelum aku membelinya. Sesudah itu aku melepaskan ihram seperti mereka juga," demikian Muslim melaporkan.

Setelah kaum Muslimin mengetahui, bahwa Rasulullah sampai marah, ribuan mereka segera melepaskan pakaian ihramnya dengan perasaan menyesal sekali. Juga isteri-isteri Nabi, Fatimah puterinya seperti yang lain juga melepaskan pakaian ihramnya. Yang masih mengenakan ihram hanya mereka yang membawa ternak kurban.

Ali kembali dari Yaman          
Sementara kaum Muslimin sedang menunaikan ibadah haji, Ali pun kembali dari ekspedisinya ke Yaman. Ia sudah mengenakan pula pakaian ihram sebagai persiapan pergi haji setelah diketahuinya bahwa Rasulullah memimpin jamaah berhaji. Ketika ia menemui Fatimah dan dilihatnya sudah melepaskan kain ihram, hal itu ditanyakannya. Fatimah menerangkan bahwa Nabi menmerintahkan mereka supaya melepaskan ihram itu waktu umrah. Ia pun segera pergi menemui Nabi, hendak melaporkan hasil perjalanannya ke Yaman. Selesai laporan itu Nabi berkata:

"Pergilah bertawaf di Ka'bah kemudian lepaskan ihrammu seperti teman-temanmu yang lain."

"Rasulullah"' kata Ali, "saya sudah mengucapkah ihlal seperti yang tuan ucapkan."4

"Kembalilah dan lepaskan ihrammu seperti dilakukan teman-temanmu yang lain," kata Nabi lagi.

"Rasulullah," demikian Ali berkata, "ketika saya mengenakan ihram, saya sudah berkata begini: Allahumma Ya Allah, saya berihlal seperti yang dilakukan oleh NabiMu, HambaMu dan RasulMu Muhammad."

Nabi bertanya, kalau-kalau dia sudah mempunyai binatang kurban. Setelah oleh Ali dijawab tidak, Muhammad membagikan binatang kurban yang dibawanya itu kepada Ali. Dengan demikian Ali tetap mengenakan ihram dan melakukan manasik haji akbar sampai selesai.

Khotbah 'Arafat          
Pada hari kedelapan Zulhijjah, yaitu Hari Tarwia, Muhammad pergi ke Mina. Selama sehari itu sambil melakukan kewajiban salat ia tinggal dalam kemahnya itu. Begitu juga malamnya, sampai pada waktu fajar menyingsing pada hari haji. Selesai salat subuh, dengan menunggang untanya al-Qashwa' tatkala matahari mulai tersembul ia menuju arah ke gunung 'Arafat. Arus-manusia dari belakang mengikutinya. Bilamana ia sudah mendaki gunung itu dengan dikelilingi oleh ribuan kaum Muslimin yang mengikuti perjalanannya - ada yang mengucapkan talbiah, ada yang bertakbir, sambil ia mendengarkan mereka itu, dan membiarkan mereka masing-masing.

Di Namira, sebuah desa sebelah timur 'Arafat, telah pula dipasang sebuah kemah buat Nabi, atas permintaannya. Bila matahari sudah tergelincir, dimintanya untanya al-Qashwa, dan ia berangkat lagi sampai di perut wadi di bilangan 'Urana. Di tempat itulah manusia dipanggilnya, sambil ia masih di atas unta, dengan suara lantang; tapi sungguhpun begitu masih diulang oleh Rabi'a b. Umayya b. Khalaf. Setelah mengucapkan syukur dan puji kepada Allah dengan berhenti pada setiap anak kalimat ia berkata, "Wahai manusia sekalian!5 perhatikanlah kata-kataku ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu dengan kamu sekalian.

"Saudara-saudara!5 Bahwasanya darah kamu dan harta-benda kamu sekalian adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini yang suci sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Tuhan. Dan pasti kamu akan menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggung-jawaban atas segala perbuatanmu. Ya, aku sudah menyampaikan ini!

"Barangsiapa telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya. "Bahwa semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak boleh lagi ada riba dan bahwa riba 'Abbas b. 'Abd'l-Muttalib semua sudah tidak berlaku.

"Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibn Rabi'a bin'l Harith b. 'Abd'l-Muttalib!

"Kemudian daripada itu saudara-saudara.5 Hari ini nafsu setan yang minta disembah di negeri ini sudah putus buat selama-lamanya. Tetapi, kalau kamu turutkan dia walau pun dalam hal yang kamu anggap kecil, yang berarti merendahkan segala amal perbuatanmu, niscaya akan senanglah dia. Oleh karena itu peliharalah agamamu ini baik-baik.

"Saudara-saudara.5 Menunda-nunda berlakunya larangan bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Dengan itu orang-orang kafir itu tersesat. Pada satu tahun mereka langgar dan pada tahun lain mereka sucikan, untuk disesuaikan dengan jumlah yang sudah disucikan Tuhan. Kemudian mereka menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah dan mengharamkan mana yang sudah dihalalkan.

"Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada duabelas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan suci, tiga bulan berturut-turut dan bulan Rajab itu antara bulan Jumadilakhir dan Sya'ban.

"Kemudian daripada itu, saudara-saudara.5 Sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu, juga isterimu sama mempunyai hak atas kamu. Hak kamu-atas mereka ialah untuk tidak mengijinkan orang yang tidak kamu sukai menginjakkan kaki ke atas lantaimu, dan jangan sampai mereka secara jelas membawa perbuatan keji. Kalau sampai mereka melakukan semua itu Tuhan mengijinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh memukul mereka dengan suatu pukulan yang tidak sampai mengganggu. Bila mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka kewajiban kamulah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan sopan-santun. Berlaku baiklah terhadap isteri kamu, mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu mengambil mereka sebagai amanat Tuhan, dan kehormatan mereka dihalalkan buat kamu dengan nama Tuhan.

"Perhatikanlah kata-kataku ini, saudara-saudara5 Aku sudah menyampaikan ini. Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan ditangan kamu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat selama-lamanya - Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

"Wahai Manusia sekalian!5 Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap Muslim adalah saudara buat Muslim yang lain, dan kaum Muslimin semua bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.

"Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?"

Sementara Nabi mengucapkan itu Rabi'a mengulanginya kalimat demi kalimat, sambil meminta kepada orang banyak itu menjaganya dengan penuh kesadaran. Nabi juga menugaskan dia supaya menanyai mereka misalnya: Rasulullah bertanya "hari apakah ini? Mereka menjawab: Hari Haji Akbar! Nabi bertanya lagi: "Katakan kepada mereka, bahwa darah dan harta kamu oleh Tuhan disucikan, seperti hari ini yang suci, sampai datang masanya kamu sekalian bertemu Tuhan."

Setelah sampai pada penutup kata-katanya itu ia berkata lagi:

"Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?!"

Maka serentak dari segenap penjuru orang menjawab: "Ya!"

Lalu katanya: "Ya Allah, saksikanlah ini!"

"Hari ini Kusempurnakan agamamu."
Selesai Nabi mengucapkan pidato ia turun dari al-Qashwa' - untanya itu. Ia masih di tempat itu juga sampai pada waktu sembahyang lohor dan asar. Kemudian menaiki kembali untanya menuju Shakharat. Pada waktu itulah Nahi a.s. membacakan firman Tuhan ini kepada mereka: "Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian dengan Kucukupkan NikmatKu kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu." (Qur'an, 5: 3)

Abu Bakr ketika mendengarkan ayat itu ia menangis, ia merasa, bahwa risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi hendak menghadap Tuhan.

Setelah meninggalkan Arafat malam itu Nabi bermalam di Muzdalifa. Pagi-pagi ia bangun dan turun ke Masy'ar'l-Haram. Kemudian ia pergi ke Mina dan dalam perjalanan itu ia melemparkan batu-batu kerikil. Bila sudah sampai di kemah ia menyembelih 63 ekor unta, setiap seekor unta untuk satu tahun umurnya, dan yang selebihnya dari jumlah seratus ekor unta kurban yang dibawa Nabi sewaktu keluar dari Medinah - disembelih oleh Ali. Kemudian Nabi mencukur rambut dan menyelesaikan ibadah hajinya.

Dengan selesainya ibadah haji ini, ada orang yang menamakannya 'Ibadah haji perpisahan' yang lain menyebutkan 'ibadah haji penyampaian' ada lagi yang mengatakan 'ibadah haji Islam.'6 Nama-nama itu memang benar semua. Disebut 'ibadah haji perpisahan' karena ini yang penghabisan kali Muhammad melihat Mekah dan Ka'bah. Dengan 'ibadah haji Islam,' karena Tuhan telah menyempurnakan agama ini kepada umat manusia dan mencukupkan pula nikmatNya. 'Ibadah haji penyampaian' berarti Nabi telah menyampaikan kepada umat manusia apa yang telah diperintahkan Tuhan kepadanya. Tiada lain Muhammad hanya memberi peringatan dan pembawa berita gembira kepada orang-orang beriman.

Catatan kaki          
1 Qur'an, 9: 29.
2 Akil'l-Murar nama suatu kabilah dan sebutan ini menandakan keturunan amir-amir yang sangat dibanggakan (A).
3 Lihat catatan bawah halaman 580 (A).
4 Aslinya 'Innani ahlaltu kama ahlalta,' harfiah, Aku sudah ber-ihlal seperti tuan ber-ihlal: Dalam terminologi agama 'Ihlal, meninggikan suara dengan talbiah' (N). 'Ahalla, ihlal berarti meninggikan suara dengan talbiah di waktu haji atau umrah secara berulangulang' (LA) yang biasa dilakukan di miqat atau muhall, yaitu tempat yang telah ditentukan untuk memulai niat haji (A).
5 Aslinya Ayyuhan-nas, harfiah: "Wahai manusia!" (A).
6 Yakni 'Hijjat'l-Wada', 'hijjat'l-balagh' dan 'hijjat'l-Islam , (A). 
 
 
Sumber :  http://www.sejarahnabi.net/2010/09/bab-xxix-ibadah-haji-perpisahan.html

Sejarah Nabi Muhammad SAW ( 28 )...............

Pengaruh Tabuk - Islamnya 'Urwa bin Mas'ud  Perutusan Thaqif - Nabi menolak berhala - Minta dibebaskan dari salat - Lat dibinasakan - Abu Bakr memimpin jemaah haji - Dasar ideal negara yang baru tumbuh - Keputusan yang berlebih-lebihan - Kebebasan berpikir dan peradaban Barat - Bolsjevisma sebagai konsepsi ekonomi - Membungkam kebebasan berpikir yang beralasan - Gambaran kehidupan syirik - Revolusi terhadap syirik dibenarkan - 'Amir bin't-Tufail - Perjuangan dalam Islam dan alasannya - Catatan kaki.



Pengaruh Tabuk          
DENGAN berakhirnya ekspedisi ke Tabuk itu maka ajaran Islam sudah selesai tersebar ke seluruh jazirah Arab. Muhammad sudah aman dari setiap serangan yang datang dari luar. Sebenarnya, begitu Muhammad kembali ke Medinah dari perjalanan ekspedisi itu, semua penduduk jazirah yang masih berpegang pada kepercayaan syirik, sekarang sudah mulai berpikir-pikir. Meskipun kaum Muslimin yang telah ikut menemani Muhammad dalam perjalanan ke Syam itu cukup mengalami pelbagai macam kesukaran, memikul segala penderitaan karena haus dan panas musim yang begitu membakar, namun mereka kembali dengan hati kesal, sebab mereka tidak jadi berperang, tidak membawa rampasan perang, karena pihak Rumawi menarik pasukannya hendak bertahan dalam benteng-benteng di pedalaman Syam. Akan tetapi penarikan mundur ini sebenarnya telah meninggalkan kesan yang dalam sekali dalam hati kabilah-kabilah bagian selatan - di Yaman, Hadzramaut dan 'Umman (Oman). Bukankah pasukan Rumawi itu juga yang telah mengalahkan Persia, telah mengambil kembali Salib Besar, kemudian membawanya kembali ke Yerusalem dalam suatu upacara besar-besaran? Sedang Persia, waktu itu dalam waktu yang cukup lama merupakan penguasa yang perkasa atas wilayah Yaman dan daerah-daerah sekitarnya itu.

Selama kaum Muslimin berada tidak jauh dari Yaman dan daerah-daerah Arab lainnya, bukankah sudah selayaknya apabila seluruh wilayah ini bergabung semua dalam suatu kesatuan di bawah naungan panji Muhammad, panji Islam, supaya mereka dapat diselamatkan dari kekuasaan pihak Rumawi dan Persia? Apa salahnya kalau kepala-kepala kabilah dan daerah itu berbuat begitu, selama mereka memang membuktikan Muhammad tetap mengakui kekuasaan daerah-daerah dan kabilah-kabilah mereka yang datang menyatakan keislaman dan kesetiaan mereka itu?! Ya, hendaknya tahun kesepuluh Hijrah ini memang menjadi Tahun Perutusan, manusia datang berbondong-bondong menyambut agama Allah. Hendaknya ekspedisi Tabuk dan penarikan mundur pasukan Rumawi menghadapi pihak Muslimin itu akan memberi pengaruh lebih besar daripada pembebasan Mekah, kemenangan Hunain dan pengepungan kota Ta'if selama ini.

Nasib baik yang telah membawa Ta'if -- kota yang tadinya paling gigih melawan Nabi selama kota itu dalam pengepungan sehingga akhirnya ditinggalkan kaum Muslimin tanpa dapat diterobos - ialah karena sesudah peristiwa Tabuk, kota inilah yang pertama-tama menyatakan kesetiaannya, meskipun sebelum itu lama sekali ia maju-mundur hendak mengumumkan pernyataan setianya itu.

Islamnya 'Urwa bin Mas'ud          
Setelah kejadian Hunain, selama Nabi memimpin ekspedisi ke Ta'if, 'Urwa b. Mas'ud - salah seorang pemimpin Thaqif yang tinggal di kota tcrsebut - sedang tak ada di tempat. Ia sedang pergi ke Yaman. Bilamana kemudian ia kembali ke daerahnya dan melihat Nabi mendapat kemenangan di Tabuk dan sudah kembali ke Medinah, ia pun segera menyatakan dirinya masuk Islam serta memperlihatkan betapa besar hasratnya ingin mengajak masyarakatnya juga masuk Islam 'Urwa bukan tidak mengenal Muhammad dan kebesarannya. Dia termasuk salah seorang yang pernah ikut berunding mewakili Quraisy dalam perdamaian Hudaibiya. Setelah 'Urwa masuk Islam dan Nabi mengetahui hasratnya hendak pergi mengajak golongannya menerima agama ini yang sudah juga dianutnya, Nabi yang sudah pula mengetahui betapa bangga dan kerasnya fanatik orang-orang Thaqif itu terhadap Lat berhala mereka, diingatkannya 'Urwa dengan katanya: "Mereka akan membunuh engkau."

Tetapi 'Urwa yang merasa kedudukannya cukup kuat di tengah-tengah golongannya itu sebaliknya berkata: "Rasulullah, mereka mencintai saya lebih daripada mencintai mata mereka sendiri."

Perutusan Thaqif          
Kemudian 'Urwa pergi hendak mengajak golongannya itu menganut Islam. Mereka berunding sesama mereka dan tidak memberikan sesuatu pendapat kepadanya. Keesokan harinya pagi-pagi ia pergi ke ruangan atas rumahnya, ia mengajak orang bersembahyang. Tepat sekalilah firasat Rasulullah waktu itu. Masyarakatnya itu sudah tak dapat menahan hati. Ia dikepung lalu dihujani panah dari segenap penjuru, dan sebatang anak panah telah dapat pula menewaskannya. Keluarga 'Urwa yang berada di sekelilingnya jadi gelisah. Kata 'Urwa ketika sedang mengembuskan napas terakhir: "Suatu kehormatan telah diberikan Tuhan kepadaku, suatu kesaksian oleh Tuhan telah dilimpahkan kepadaku. Yang kualami ini sama seperti yang dialami para syuhada yang berjuang di samping Rasulullah - s.a.w. - sebelum meninggalkan kita."

Kemudian dimintanya supaya ia dikuburkan bersama-sama para syuhada. Oleh keluarganya ia pun dikuburkan bersama-sama mereka.

Tetapi nyatanya darah 'Urwa tidak sia-sia mengalir. Kabilah-kabilah yang berada di sekitar Ta'if semuanya sudah masuk Islam. Disini mereka menyadari bahwa apa yang telah diperbuat Thaqif terhadap pemimpin itu adalah suatu dosa besar. Akibat perbuatan itu Thaqif menyadari juga, bahwa mereka merasa tidak tenang. Setiap ada orang keluar dari kalangan mereka pasti tertangkap. Sekarang mereka yakin, bahwa bila tidak diadakan suatu perdamaian atau semacam gencatan senjata, pasti nasib mereka akan hilang tak ada artinya. Segera mereka mengadakan perundingan dengan sesama mereka. Mereka mengusulkan kepada pemimpin mereka ['Abd Yalail] supaya ia berangkat menemui Nabi dan mengusulkan suatu perdamaian Thaqif.

Akan tetapi 'Abd Yalail kuatir akan mengalami nasib seperti yang dialami 'Urwa b. Mas'ud dari masyarakatnya sendiri. Ia tidak akan berangkat menemui Muhammad kalau tidak diantar oleh lima orang lainnya, dengan keyakinan bahwa kalau ia berangkat dengan mereka lalu kembali pulang, mereka akan dapat menggarap golongannya masing-masing.

Ketika sudah mendekati Medinah dan Mughira b. Syu'ba berjumpa dengan mereka, ia pergi cepat-cepat hendak menyampaikan berita kedatangan mereka itu kepada Nabi.

Abu Bakr juga melihatnya ia sedang berjalan ccpat-cepat itu. Setelah ia mengetahui maksud kedatangan mereka dari Mughira, dimintanya biarlah dia yang akan meneruskan berita gembira itu kepada Rasulullah. Dan Abu Bakr pun masuk menyampaikan berita kedatangan perutusan Thaqif itu kepada Nabi. Tetapi sebenarnya perutusan ini masih juga mau membanggakan golongannya. Mereka masih juga mau mengingat-ingat pengepungan Nabi di Ta'if yang kemudian kembali. Kendatipun Mughira sudah memberitahukan mereka bagaimana caranya memberi salam secara Islam kepada Nabi, namun mereka tidak mau juga dan akan memberi salam hanya dengan cara jahiliah itu juga.

Nabi menolak berhala          
Kemudian mereka memasang sebuah qubba - kemah bulat1 yang khas di sebelah mesjid. Mereka memasang kemah itu sebab mereka masih sangat berhati-hati sekali terhadap Muslimin, dan belum yakin. Yang menjadi perantara antara mereka dengan Rasulullah dalam perundingan itu ialah Khalid b. Sa'id bin'l-'Ash. Mereka tidak mau merasakan makanan yang datang dari pihak Nabi sebelum dicoba dimakan terlebih dahulu oleh Khalid. Sebagai perantara orang ini menyampaikan kepada Muhammad bahwa mereka menerima Islam, dengan permintaan supaya Lat berhala mereka itu dibiarkan selama tiga tahun jangan dihancurkan, dan mereka supaya dibebaskan dari kewajiban sembahyang. Tetapi permintaan mereka itu samasekali ditolak oleh Muhammad. Permintaan mereka sekarang dikurangi lagi: supaya Lat dibiarkan selama dua tahun lalu berubah menjadi satu tahun, selanjutnya menjadi satu bulan saja, setelah mereka kembali kepada golongan mereka. Akan tetapi penolakannya itu sudah tegas sekali dan tidak lagi ragu-ragu atau dapat ditawar-tawar.

Bagaimana mereka mengharapkan dari Nabi, yang mengajak manusia menyembah hanya kepada Tuhan Yang Tunggal dan menghancurkan semua berhala tanpa ampun, akan sudi membiarkan soal berhala mereka itu, meskipun masyarakatnya sendiri tidak kurang pula gigihnya seperti pada pihak Thaqif di Ta'if. Buat manusia, yang ada hanyalah: dia beriman atau tidak beriman, di luar itu yang ada hanya syak (skeptis) dan serba sangsi. Sedang syak dan iman tidak bisa bertemu dalam satu jantung, sama halnya seperti iman dan kufur. Membiarkan Lat - datuknya Banu Thaqif itu - berarti suatu perlambang bahwa mereka masih saling berganti ibadat antara berhala dengan Tuhan, dan ini adalah perbuatan mempersekutukan Tuhan, sedang Tuhan takkan mengampuni dosa orang yang mempersekutukan Tuhan.

Minta dibebaskan dari salat          
Sekarang pihak Thaqif minta dibebaskan dari kewajiban menjalankan salat. Tetapi Muhammad menolak dengan mengatakan: Tidak baik agama yang tidak disertai salat. Kemudian tidak lagi pihak Thaqif mempertahankan Lat itu, mereka mau menerima Islam dan menjalankan salat. Tetapi mereka masih meminta berhala-berhala itu jangan dihancurkan oleh tangan mereka sendiri. Mereka orang baru dalam mengenal iman, dan masyarakat mereka yang masih menunggu mereka kembali itu ingin mengetahui apa benar yang sudah mereka lakukan. Hendaknya Muhammad membebaskan mereka untuk tidak menghancurkan sendiri apa yang mereka sembah dan disembah nenek-moyang mereka itu. Dalam hal ini Muhammad menganggap tidak perlu berkeras. Akan sama saja, berhala itu dihancurkan oleh tangan orang-orang Thaqif atau oleh tangan orang lain. Yang penting berhala itu dibinasakan, dan pihak Thaqif hanya akan menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Kata Nabi a.s.: "Kami akan membebaskan kamu menghancurkan berhala-berhalamu itu dengan tanganmu sendiri."

Untuk mengurus mereka itu kekuasaan diberikan kepada 'Uthman b. Abi'l-'Ash - orang yang paling muda usianya di antara mereka. Dalam usia semuda itu ia diberi kekuasaan mengurus mereka, karena dialah yang paling sungguh-sungguh dalam memahami hukum Islam dan pendidikan Qur'an, dengan disaksikan oleh Abu Bakr dan orang-orang yang mula-mula dalam Islam.

Utusan Banu Thaqif itu tinggal dengan Muhammad sampai akhir bulan puasa. Mereka ikut berpuasa bersama-sama dan dikirimkannya pula makanan kepada mereka untuk sahur dan berbuka. Bilamana sudah tiba saatnya mereka akan kembali kepada golongannya, Muhammad berpesan kepada 'Uthman b. Abi'l-'Ash dengan mengatakan: "Ringkaskanlah dalam bersembahyang dan ambil orang yang lemah sebagai ukuran. Diantara mereka itu ada orang tua, ada yang masih anak-anak, ada yang lemah dan yang mempunyai keperluan."

Lat dibinasakan          
Perutusan itu kemudian kembali ke negeri mereka. Untuk melaksanakan pembinasaan Lat itu, Nabi mengutus bersama mereka Abu Sufyan b. Harb dan Mughira b. Syuiba. Kedua mereka ini memang sudah mempunyai hubungan yang baik dan akrab dengan Banu Thaqif. Bilamana Abu Syufyan dan Mughira tiba dan Mughira menghancurkan berhala itu, wanita-wanita Thaqif karena merasa sedih mereka menangis, tapi tiada seorang yang berani mendekatinya, karena memang sudah ada persetujuan antara perutusan Thaqif dengan Nabi untuk membinasakan berhala itu. Mughira mengambil semua harta Lat termasuk perhiasannya untuk dipergunakan membayar utang-utang 'Urwa dan Aswad - atas perintah Rasul dan dengan persetujuan Abu Sufyan.

Jadi dengan runtuhnya berhala Lat dan Ta'if masuk Islam, maka seluruh Hijaz sekarang sudah menjadi Islam. Pengaruh Muhammad sekarang membentang dari wilayah Rumawi di utara sampai ke daerah Yaman dan Hadzramaut di selatan. Daerah-daerah selebihnya di bagian selatan jazirah ini semua sudah pula bersiap-siap hendak menggabungkan diri ke dalam agama baru ini. Dengan segala kekuatan yang ada semua ini sudah siap membela agama dan tanah air masing-masing. Sementara itu utusan-utusan terus berdatangan dari segenap penjuru. Mereka semua menuju Medinah, untuk menyatakan kesetiaannya, untuk menyatakan diri masuk Islam.

Sementara para utusan itu berturut-turut datang ke Medinah dari bulan ke bulan, akhirnya bulan Haji pun sudah pula di ambang pintu. Sampai pada waktu itu Nabi tidak menunaikan kewajiban itu seluruhnya seperti yang dilakukan kaum Muslimin dewasa ini. Adakah kita lihat ia pergi dalam tahun ini sebagai tanda syukur kepada Tuhan karena pertolongan yang diberikanNya dalam menghadapi Rumawi, memasukkan Ta'if ke dalam pangkuan Islam serta perutusan yang datang kepadanya dari segenap penjuru?

Sebenarnya di semenanjung itu masih juga ada orang-orang yang belum beriman kepada Allah dan kepada Rasul, masih juga ada orang-orang kafir dan masih juga ada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sedang orang-orang kafir masih berpegang pada adat lembaga jahiliah. Dalam bulan-bulan suci mereka masih berziarah ke Ka'bah, sedang orang-orang kafir kotor. Jadi kalau begitu, biar dia akan tinggal saja di Medinah, sampai Tuhan menyelesaikan FirmanNya, sampai Tuhan mengijinkan ia pergi berhaji ke Baitullah. Biar Abu Bakr saja memimpin orang naik haji.

Abu Bakr memimpin jemaah haji          
Pada waktu itulah Abu Bakr memimpin 300 orang Muslimin menuju Mekah. Akan tetapi mungkin dari tahun ke tahun orang musyrik masih juga akan tetap berziarah ke Baitullah yang suci. Bukankah secara umum antara Muhammad dengan orang-orang itu sudah ada suatu perjanjian bahwa tidak boleh orang dirintangi datang ke Ruimah Suci, dan orang tidak boleh merasa takut selama dalam bulan-bulan suci? Bukankah antara dia dengan kabilah-kabilah Arab sudah ada perjanjian-perjanjian sampai saat-saat tertentu? Selama ada perjanjian-perjanjian demikian, selama itu pula orang-orang yang mempersekutukan Tuhan dan menyembah yang selain Tuhan itu akan tetap berziarah ke Baitullah, dan Muslimin pun akan selalu menyaksikan cara peribadatan jahiliah di bawah matanya sendiri, dilangsungkan di sekitar Ka'bah; sedang menurut perjanjian-perjanjian khusus dan perjanjian secara umum tak ada alasan menghalangi orang datang berhaji dan beribadat di tempat itu.

Kalau berhala-berhala yang disembah orang-orang Arab itu sudah banyak yang dihancurkan dan berhala-berhala yang dulu di dalam Ka'bah dan di sekitarnya sudah pula dimusnahkan, maka suatu pertemuan dalam Baitullah yang suci dengan nmempersatukan orang-orang yang berontak pada kehidupan syirik dan paganisma, dengan orang-orang yang tetap dalam kehidupan syirik dan paganismanya itu, adalah suatu kontradiksi yang tak dapat dimengerti. Kalau orang dapat memahami orang-orang Yahudi dan Nasrani pergi berziarah ke Bait'l-Maqdis (Yerusalem) sebab itu adalah Tanah yang dijanjikan buat orang-orang Yahudi, dan tempat kelahiran Isa Almasih buat orang-orang Nasrani, maka orang tidak akan dapat memahami pertemuan dua macam peribadatan dalam sebuah tempat, di tempat itu berhala-berhala dihancurkan dan di tempat itu pula berhala-berhala yang sudah dihancurkan itu disembah. Oleh karena itu, sudah wajar sekali apabila orang-orang musyrik itu tidak boleh lagi mendekati Rumah Suci yang sudah dibersihkan dari segala kehidupan syirik dan segala macam suasana paganisma. Dalam hal inilah ayat-ayat dalam Surah Bara'ah (At-Taubah (9) itu turun. Tetapi musim haji kini sudah dimulai dan orang-orang musyrik sudah pula ada yang datang dari pelosok-pelosok hendak menjalankan upacaranya. Baiklah pertemuan sekali ini menjadi saat menyampaikan perintah Allah kepada mereka dalam memutuskan segala perjanjian antara paganisma dengan iman, kecuali buat perjanjian yang dibuat untuk waktu tertentu ia tetap berlaku sampai pada waktu yang sudah ditentukan itu.

Untuk maksud itu Nabi lalu mengutus Ali b. Abi Talib menyusul Abu Bakr, dan berkhotbah menyampaikan perintah Allah dan Rasul itu kepada orang ramai waktu musim haji di Arafat. Dalam menunaikan tugasnya Ali dapat menyusul Abu Bakr dan kaum Muslinmin yang berangkat bersama-sama pergi haji itu. Begitu Abu Bakr melihatnya ia bertanya: "
Amir atau ma'mur? 2"
"Ma'mur,"3 jawab Ali.

Kemudian diceritakannya maksud kedatangannya itu, dan bahwa Nabi mengutus dia kepada orang banyak karena dia termasuk keluarganya.

Bilamana orang sudah berkumpul di Mina melaksanakan upacara haji, Ali berdiri di samping Abu Huraira, dan diserukannya kepada orang banyak dengan membaca firman Allah ini:4

"Suatu pernyataan pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya kepada orang-orang musyrik yang telah kamu ikat dengan perjanjian (1). Oleh karena itu, bolehlah kamu berjalan di muka bumi ini selama empat bulan dan ketahuilah, bahwa kamu tidak akan dapat melemahkan Tuhan dan Tuhan akan mencampakkan kehinaan kepada orang-orang kafir (2). Dan ini sebuah Maklumat dari Allah dan Rasul kepada umat manusia pada Hari Haji Akbar5 bahwa Allah dan Rasul lepas tangan dari orang-orang musyrik. Tetapi kalau mau bertaubat, itu lebih baik buat kamu. Tetapi kalau kamu mengelak juga, ketahuilah, kamu takkan dapat melemahkan Tuhan. Beritahukanlah kepada orang-orang yang kafir itu akan adanya siksa yang pedih (3). Kecuali mereka, yang telah kamu adakan perjanjian dengan orang-orang musyrik dan tiada pula mereka melanggar sesuatu dalam perjanjian itu, dan mereka tidak membantu seseorang dalam memusuhi kamu, maka penuhilah perjanjian itu dengan mereka sampai batas waktunya. Allah menyukai orang-orang yang teguh dalam kebenaran (4). Apabila bulan-bulan suci sudah lalu, orang-orang musyrik itu boleh diperangi dimana saja kamu jumpai mereka, tangkap dan kepunglah mereka dan intailah mereka pada setiap tempat penjagaan. Tetapi apabila mereka sudah bertaubat, sudah menjalankan salat dan mengeluarkan zakat, biarkanlah mereka bebas berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Penyayang (5). Dan apabila ada seseorang dari pihak musryik itu meminta perlindungan (suaka) kepadamu, lindungilah ia supaya sempat ia mendengar Firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat vang aman. Demikianlah, sebab mereka orang-orang yang tidak mengetahui (6). Bagaimana mungkin di hadapan Allah dan RasulNya akan ada suatu perjanjian dengan orang-orang musyrik; kecuali yang telah kamu adakan perjanjian dengan mereka di dekat Masjid'l-Haram. Maka selama mereka berlaku lurus kepada kamu, hendaklah kamu berlaku lurus juga kepada mereka; sebab Allah menyukai orang-orang yang teguh dalam kebenaran (7). Bagaimana mungkin (ada perjanjian demikian itu), padahal bilamana mereka dapat menguasai kamu, mereka tidak akan menghormat kamu, baik dalam tali kekeluargaan mau pun dalam perjanjian. Mereka menyenangkan kamu dengan mulut (manis) tapi hati mereka sebaliknya. Dan kebanyakan mereka itu orang-orang fasik (8). Ayat-ayat Tuhan mereka jual dengan harga murah dan mereka mau menghalangi orang dari jalan Allah. Memang buruk sekali perbuatan mereka itu (9). Mereka tidak lagi menghormati orang beriman, baik dalam kekeluargaan mau pun dalam perjanjian. Mereka itulah orang-orang yang melanggar batas (10). Akan tetapi bila mereka bertaubat, menjalankan sembahyang dan mengeluarkan zakat, maka mereka itu saudara-saudaramu seagama. Ayat-ayat itu Kami uraikan kepada mereka yang mau mengerti (11). Tetapi bilamana mereka sudah melanggar sumpah mereka sendiri sesudah perjanjian mereka itu, dan mereka memaki agamamu, maka perangilah pemuka-pemuka orang kafir itu - mereka orang-orang yang tak dapat menahan diri ( 12). Kamu tidak mau melawan golongan yang telah melanggar sumpahnya sendiri, padahal mereka sudah berkonmplot hendak mengusir Rasul, dan mereka itulah yang pertama kali mulai memerangi kamu. Takutkah kamu kepada mereka? Padahal Allah yang harus lebih ditakuti, kalau kamu orang-orang beriman (13). Lawanlah mereka itu! Tuhan akan menyiksa mereka melalui tangan kamu, Allah akan menista mereka dan akan menolong kamu melawan mereka, akan melegakan hati orang-orang beriman (14). Tuhan akan menghapuskan kemarahan hati mereka, akan menerima taubat siapa saja yang dikehendakiNya. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana ( 15). Adakah kamu mengira, bahwa kamu akan dibiarkan begitu saja, padahal Allah belum membuktikan kamu yang benar berjuang dan tiada pula mengambil sebagai teman akrabnya, selain Allah, Rasul dan orang-orang beriman. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat (16). Bukanlah orang-orang musyrik itu yang akan memeriahkan mesjid-mesjid Allah, karena mereka sudah mengakui sendiri kekufuran mereka. Perbuatan mereka itu rendah sekali, dan mereka akan kekal dalam api neraka (17). Tetapi yang akan memeriahkan mesjid-mesjid Allah ialah orang yang sudah beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta menjalankan sembahyang dan mengeluarkan zakat dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Mereka inilah yang diharapkan akan mendapat petunjuk (18). Pemberian minuman kepada jemaah haji dan mengurus Mesjid Suci adakah kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjuang di jalan Allah? Dalam pandangan Tuhan mereka tidak sama. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang bersalah (19). Orang-orang yang beriman, yang berhijrah dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwaraga mereka dalam pandangan Allah lebih tinggi derajatnya; dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (20). Tuhan memberikan berita gembira kepada mereka dengan rahmat, keridaan dan surga daripadaNya buat mereka. Disana tempat kesenangan abadi (21). Mereka kekal selalu disana. Pahala yang besar ada pada Tuhan (22). Orang-orang beriman! Janganlah kamu menjadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu itu sebagai wakil-wakil kamu kalau mereka lebih mengutamakan kekufuran daripada iman; dan barangsiapa mengambil mereka menjadi wakil, mereka itulah orang-orang yang aniaya (23). Ya, katakanlah: Kalau bapa-bapa kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara dan isteri-isteri kamu serta keluarga kamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuatirkan akan menjadi rugi, tempat-tempat tinggal yang kamu senangi, semua itu lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya serta daripada berjuang di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan. Allah tidak memberikan bimbingan kepada orang-orang fasik (24). Allah telah menolong kamu pada beberapa tempat dan pada Peristiwa Hunain, tatkala kamu merasa bangga sekali karena jumlah kamu yang besar. Tetapi ternyata jumlah yang besar itu sedikit pun tidak menolong kamu, dan bumi yang seluas ini pun terasa amat sempit olehmu, lalu kamu berbalik mundur (25). Sesudah itu Tuhan menurunkan perasaan tenang kedalam hati Rasul dan orang-orang beriman serta diturunkanNya pula balatentara yang tidak kamu lihat, dan disiksaNya orang-orang kafir itu dan memang itulah balasan buat orang-orang kafir (16). Sesudah itu kemudian Allah menerima taubat barangsiapa yang dikehendakiNya. Allah Maha Pengampun dan Penyayang (27). Orang-orang beriman! Ingatlah, orang-orang musyrik itu kotor. Sebab itu. sesudah ini, janganlah mereka memasuki Mesjid Suci, dan kalau kamu kuatir akan menjadi miskin, maka Tuhan dengan karuniaNya akan memberikan kekayaan kepada kamu. Jika dikehendaki, sesungguhnya Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana (28). Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak pula beragama menurut agama yang benar.yaitu orang-orang yang sudah mendapat Al-Kitab, sampai mereka membayar jizya dengan patuh dalam keadaan tunduk (29). Orang-orang Yahudi berkata: 'Uzair itu putera Allah, dan orang-orang Nasrani berkata: 'Almasih itu putera Allah,. Demikianlah kata-kata mereka, menurut mulut mereka. Mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir masa dulu. Tuhan mengutuk mereka. Bagaimana mereka sampai dipalingkan? (30). Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan al-Masih putera Mariam (juga mereka pertuhan), padahal mereka diperintahkan hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tiada tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (31). Mereka berkehendak memadamkan Nur ilahi dengan mulut mereka. Tetapi kehendak Tuhan hanya akan menyelesaikan pancaran cahayaNya itu, meskipun tidak disukai orang-orang kafir (32). Dialah Yang telah mengutus RasulNya dengan membawa Petunjuk Qur'an dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas semua agama, meskipun tidak disukai oleh orang-orang musyrik (33). Orang-orang beriman! Banyak sekali para pendeta dan rahib-rahib memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka merintangi orang dari jalan Allah. Dan mereka yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, beritahukanlah kepada mereka adanya siksa yang pedih (34). Tatkala semuanya dipanaskan dalam api jahanam, lalu dengan itu dahi mereka, lambung mereka dan punggung mereka dibakar. Inilah harta-bendamu yang kamu timbun untuk dirimu sendiri. Sebab itu, rasakan sekarang akibat apa yang kamu timbun itu (35). Sebenarnya bilangan bulan dalam pandangan Tuhan ialah duabelas bulan. Demikian ditentukan Allah tatkala Ia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan suci. Itulah ketentuan agama yang lurus. Oleh karena itu janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan itu. Lawanlah orang-orang musyrik itu semua, seperti mereka juga memerangi kamu semua. Ketahuilah, Allah beserta orang-orang yang teguh bertakwa (36).(Qur'an, 9: 1-36)

Ketika itu Ali berdiri di tengah-tengah orang yang sedang menunaikan upacara haji di Mina. Dibacakannya kepada mereka itu ayat-ayat Surah At-Taubah, yang di sini saya kutip secara keseluruhan, dengan maksud seperti yang akan saya terangkan kemudian. Selesai membaca ia berhenti sejenak, kemudian serunya lagi kepada orang ramai itu:

Dasar ideal negara yang baru tumbuh          
"Saudara-saudara! Orang kafir tidak akan masuk surga. Sesudah tahun ini orang musyrik tidak boleh lagi naik haji, tidak boleh lagi bertawaf di Ka'bah dengan telanjang. Barangsiapa terikat oleh suatu perjanjian dengan Rasulullah s.a.w. maka itu tetap berlaku sampai pada waktunya."

Ali menyampaikan keempat perintah itu di tengah-tengah orang ramai, kemudian sesudah itu kepada mereka diberi waktu empat bulan supaya masing-masing golongan itu sempat pulang ke daerah dan negeri masing-masing. Sejak itu tiada seorang musyrik lagi mengerjakan haji, tiada lagi orang telanjang bertawaf di Ka'bah. Juga sejak itulah dasar tempat berdirinya suatu negara Islam diletakkan.

Karena dasar ini pulalah maka disini saya kutip bagian-bagian permulaan Surah At-Taubah itu secara keseluruhan. Dengan hasrat supaya dasar itu diketahui oleh semua orang Arab. Ali bukan saja membacakan ayat-ayat Bara'ah (At-Taubah) itu pada musim haji saja - menurut suatu sumber yang sudah disetujui melainkan juga sesudah itu pun dibacakannya pula di rumah-rumah mereka - demikian sumber-sumber lain menyebutkan. Kalau orang membaca bagian-bagian permulaan Surat Bara'ah ini lalu diulang membacanya dan diteliti dengan seksama, orang akan merasakan sekali bahwa itulah dasar ideal dalam bentuk yang paling jelas bagi setiap negara yang baru tumbuh. Turunnya Surah Bara'ah ini secara keseluruhan ialah pada ekspedisi terakhir yang dilakukan Nabi. Setelah penduduk Tatif datang menyatakan diri sebagai keluarga agama baru ini, setelah seluruh Hijaz berikut Tihama dan Najd bernaung dibawah bendera Islam, dan setelah sebagian besar kabilah-kabilah selatan semenanjung menyatakan diri tunduk kepada Muhammad dan bergabung kedalam ajaran agamanya. ketika itulah tampak hikmah sejarah turunnya ayat-ayat yang mengatur dasar negara ideal sampai pada waktu itu. Supaya negara menjadi kuat, maka ia harus mempunyai suatu ideologi ideal yang umum sifatnya dapat dijadikan keyakinan masyarakat dan semua bersedia pula membelanya dengan segala kekuatan dan kemampuan yang ada. Dalam hal ini mana pula ada suatu ideologi yang lebih besar daripada keimanan kepada Allah Yang Maha Esa dan tidak bersekutu. Dan ideologi yang mana pula yang lebih besar pengaruhnya dalam jiwa manusia daripada suatu kesadaran bahwa ia merasa dirinya berhubungan dengan Alam dengan segala manifestasinya yang paling tinggi. Tak ada yang dapat menguasai dirinya selain Allah dan hanya Allah pula dapat mengawasi hati nuraninya. Apabila ada orang yang menentang ideologi umum yang harus menjadi dasar negara ini, maka mereka itu ialah orang-orang fasik, orang-orang yang mau menyebarkan benih-benih pergolakan perang saudara dan fitnah yang merusak. Oleh karena itu, terhadap orang-orang semacam itu tidak boleh ada suatu perjanjian. Negara harus memerangi mereka. Kalau pembangkangan mereka terhadap ideologi umum itu bersifat liar dan tak terkemudikan, mereka harus diperangi sampai mereka tunduk. Kalau pembangkangannya terhadap ideologi bersifat tidak liar dan dapat dikendalikan - seperti halnya dengan Ahli Kitab - maka mereka wajib membayar jizyah dengan taat dan patuh pada peraturan yang berlaku.

Keputusan yang berlebih-lebihan          
Dari tinjauan kita mengenai arti ayat-ayat Surah At-Taubah yang sudah kita baca itu, dari segi sejarah dan sosiologi, tentu akan mengantarkan kita pada penilaian itu juga. Dan setiap orang yang jujur dan beritikad baik, akan kesana pula penilaiannya. Akan tetapi, mereka yang telah memberikan tanggapan kepada Rasul dengan cara yang sudah melampaui batas itu, akan meninggalkan tinjauan demikian ini. Mereka akan menafsirkan ayat dalam Surah At-Taubah yang sudah begitu jelas dan kuat itu dengan mengatakan, bahwa hal itu akan mendorong orang jadi fanatik, yang sudah tidak sesuai lagi dengan jiwa toleransi peradaban dewasa ini; akan mendorong orang supaya mengejar dan membunuh orang-orang musyrik dimana saja ada orang-orang yang beriman - tanpa mengenal ampun dan kasihan lagi, juga mendorong orang membuat undang-undang atas dasar tirani.

Demikian inilah kata-kata yang sering kita baca dalam buku-buku kaum Orientalis. Kata-kata ini sangat menarik pikiran orang yang memang belum matang dalam masalah-masalah kritik sosial dan sejarah, dalam kalangan Muslimin sendiri sekali pun. Kata-kata demikian itu sebenarnya sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan sejarah, juga tidak sesuai dengan kenyataan sosial. Hal inilah - yang dalam penafsiran mereka mengenai Surah At-Taubah seperti yang kita sebutkan, dan yang serupa itu pula yang banyak terdapat dalam surah-surah lain dalam Qur'an yang menyebabkan orang membuat suatu penafsiran yang sama sekali tak dapat diterima oleh logika dan kenyataan dalam sejarah Rasul, juga bertentangan dengan rangkaian sejarah hidup Nabi Besar itu sejak ia diutus Allah membawa agama ini sampai ia berpulang kembali ke rahmatullah.

Kebebasan berpikir dan peradaban Barat          
Untuk menjelaskan hal ini, baik juga kalau kita bertanya mengenai dasar ideal peradaban yang berlaku sekarang, lalu kita bandingkan dengan dasar ideal seperti yang dibawa oleh Muhammad itu. Dasar ideal peradaban yang berlaku dewasa ini ialah kebebasan berpikir yang tidak terbatas, dan hanya cara menyatakannya dibatasi dengan undang-undang. Dan kebebasan berpikir inilah yang lalu dijadikan suatu ideologi, yang dibela orang dan bersedia ia berkorban untuk itu. Ia berjuang dan berperang mati-matian hendak mewujudkan hal itu, dan menganggap semua itu sebagai kejayaan yang patut dibanggakan oleh setiap generasi, dan dibanggakan juga terhadap masa lampau Karena itu pulalah Orientalis-orientalis seperti yang kita sebutkan itu berkata: "Ajaran Islam yang hendak memerangi orang yang tidak mau beriman kepada Tuhan dan Hari Kemudian, ialah ajaran yang menyuruh orang jadi fanatik. Sebenarnya ini bertentangan dengan kebebasan berpikir."

Ini suatu pemalsuan yang memalukan, apabila kita sudah mengetahui bahwa nilai pikiran itu terletak pada ajaran dan perbuatannya. Islam tidak menyuruh menentang orang-orang musyrik penduduk semenanjung itu, kalau saja mereka patuh dan tidak mengajak orang melakukan syirik dan menyuruh pula melaksanakan upacaranya. Peradaban yang sedang berkuasa (the ruling culture) sekarang, dalam memerangi pikiran-pikiran yang berlawanan dengan situasi ideologi itu sudah melebihi perlawanan kaum Muslimin terhadap orang-orang musyrik. Juga peradaban yang berkuasa sekarang ini seribu kali lebih jahat dibandingkan dengan jizya yang berlaku terhadap orang yang dianggap Ahli Kitab itu.

Bolsjevisma sebagai konsepsi ekonomi          
Sengaja disini kita tidak akan mengambil contoh kejadian dulu ketika terjadi gerakan pemberantasan perdagangan budak-belian, sekali pun mereka yang bekerja dalam perdagangan ini yakin sekali bahwa hal itu tidak dilarang. Kita tidak mengambil ini sebagai contoh, supaya jangan ada yang berkata, bahwa kita bukan tidak menyetujui adanya perdagangan semacam itu meskipun Islam tidak menyuruh lebih daripada memberantas apa yang tidak disetujuinya itu. Sebaliknya Eropa sekarang, Eropa yang punya peradaban yang sedang berkuasa itu, dengan dibantu oleh Amerika, oleh kekuatan-kekuatan bersenjata di Asia bagian selatan dan Timur Jauh, telah pula memerangi gerakan bolsyevisma (komunisma), dan bersedia berperang terus mati-matian. Kami di Mesir ini pun bersedia pula bersama-sama dengan peradaban yang sedang berkuasa ini memerangi dan memberantas bolsyevisma, meskipun dalam hal ini bolsyevisma tidak lebih dari suatu gagasan ekonomi yang mau melawan gagasan lain yang dianut oleh peradaban yang sedang berkuasa sekarang itu. Adakah seruan Islam yang hendak memberantas orang-orang syirik yang telah melanggar perjanjian Tuhan setelah disahkan itu sebagai suatu seruan biadab yang menganjurkan fanatisma dan antikebebasan? Sebaliknya seruan yang hendak memberantas bolsyevisma yang merusak susunan masyarakat itu, dalam peradaban yang sedang berkuasa ini dipandang sebagai seruan yang menganjurkan kebebasan berpikir dan berideologi dan patut dihormati?

Kemudian ada segolongan orang pada beberapa negara di Eropa yang memandang bahwa pendidikan rohani harus disertai pula dengan pendidikan jasmani, dan bahwa kebiasaan orang menutup seluruh badan atau sebagian anggota badannya sebenarnya lebih membangkitkan napsu kelamin (sex) dalam jiwa orang lain, dan tentunya lebih-lebih lagi akan merusak moral, daripada kalau orang itu semua telanjang bulat. Maka orang-orang yang punya gagasan ini mulailah melaksanakan gagasannya, mulai mengadakan tempat-tempat nudis dalam beberapa kota.6 Mereka mendirikan tempat-tempat yang dapat dikunjungi oleh siapa saja yang mau membiasakan diri dengan pendidikan jasmani demikian itu. Tetapi begitu gagasan ini tersebar orang-orang yang bertanggungjawab dalam beberapa negara memandang tersebamya gejala-gejala semacam ini akan sangat merusak pendidikan akhlak dan membahayakan masyarakat. "Perkumpulan-perkumpulan nudis" ini dilarang, mereka yang bertanggungjawab atas gagasan itu dikejar-kejar dan mengadakan tempat-tempat pendidikan jasmani semacam itu dilarang dengan undang-undang. Kita tidak akan sangsi, bahwa bilamana gagasan ini sampai tersebar luas pada suatu bangsa secara keseluruhan, pasti ia akan menyebabkan timbulnya pengumuman perang dari bangsa-bangsa lain atas bangsa itu dengan alasan bahwa hal ini akan merusak nilai-nilai kehidupan rohani umat manusia, seperti yang pernah terjadi dengan timbulnya peperangan-peperangan karena budak-belian, timbulnya peperangan atau yang semacam itu karena memperdagangkan budak kulit putih atau perdagangan candu.

Membungkam kebebasan berpikir yang beralasan          
Kenapa terjadi semua itu? Sebabnya ialah, karena kebebasan berpikir secara mutlak itu memang dapat diterima selama ia tetap tersimpan dalam batas-batas ucapan yang tidak sampai menyentuh tubuh masyarakat secara membahayakan. Akan tetapi bilamana pikiran itu akan sampai menyebabkan timbulnya kerusakan pada masyarakat manusia maka penyebabnya itu harus diberantas; juga manifestasi gagasan itu semua harus diberantas, bahkan gagasannya sendiri harus diberantas, meskipun manifestasi perang ini berbeda-beda, sesuai dengan tingkat kerusakan dalam masyarakat sebagai akibat dari manifestasi itu, yang dengan bertahannya itu dikuatirkan membawa akibat dalam perkembangan etik, sosial dan ekonomi.

Inilah kenyataan sosial yang sudah diakui dan disahkan oleh peradaban yang sedang berkuasa sekarang. Kalau kita masih mau menjelajahi terus manifestasi itu serta pengaruh-pengaruhnya dalam pelbagai bangsa, tentu akan terlalu panjang kita bicara, dan bukan pula tempatnya disini. Hanya saja orang akan dapat berkata, bahwa setiap undang-undang yang tujuannya hendak membungkam setiap gerakan sosial, ekonomi atau politik, maka ini berarti perang melawan pikiran yang melahirkan gerakan itu, dan perang ini dapat dibenarkan sesuai dengan bahaya yang menimpa masyarakat manusia, apabila pikiran-pikiran yang menjadi sasaran perang tersebut dilaksanakan.

Gambaran kehidupan syirik          
Kalau kita mau menilai seruan Islam dalam memberantas kehidupan syirik dan penganut-penganutnya serta dalam memerangi mereka sampai mereka itu patuh, dapat dibenarkankah perang demikian ini atau tidak dapat dibenarkan? Kita perlu sekali melihat peranan yang dimainkan oleh pikiran syirik ini serta tujuannya. Apabila sudah ada kata sepakat mengenai betapa besar bahayanya terhadap masyarakat manusia dalam berbagai zaman, maka pengumumam perang yang dicetuskan oleh Islam kepada mereka itu dapat sekali dibenarkan, bahkan suatu kewajiban adanya.

Kehidupan syirik yang ada pada waktu Muhammad a.s. membawa dakwah agama yang benar itu, bukan hanya menggambarkan penyembahan berhala saja - dan kalau pun demikian adanya harus juga diberantas, sebab adalah suatu ironi terhadap akal pikiran dan kehormatan martabat manusia, bahwa manusia akan menyembah batu - tetapi kehidupan syirik ini juga menggambarkan sekelompok tradisi, adat-istiadat dan kebiasaan, bahkan menggambarkan suatu sistem masyarakat yang lebih berbahaya dari perbudakan, lebih berbahaya dari bolsyevisma dan lebih berbahaya dari segala yang dapat digambarkan oleh otak manusia menjelang akhir abad keduapuluh ini. Mereka menggambarkan cara hidup yang menguburkan bayi perempuan hidup-hidup, polygami yang tiada terbatas, laki-laki boleh mengawini perempuan sampai tigapuluh, empatpuluh, seratus, tigaratus atau lebih dari itu. Mereka menggambarkan suatu perbuatan riba dalam bentuknya yang paling kotor yang dapat digambarkan manusia, juga mereka menggambarkan kehidupan anarkhisma moral dalam bentuknya yang paling rendah. Masyarakat Arab pagan itu sebenarnya adalah masyarakat yang paling jahat yang pernah dilahirkan ke tengah-tengah umat manusia ini.

Dari setiap orang yang jujur sangat saya harapkan kiranya akan dapat menjawab pertanyaan ini: Sekiranya sekarang ada suatu masyarakat manusia membuat suatu sistem untuk mereka sendiri dengan segala tradisi, adat-istiadat dan kebiasaan meliputi segala perbuatan menguburkan anak perempuan hidup-hidup, polygami tak terbatas, membolehkan perbudakan dengan suatu sebab atau tanpa sebab, eksploitasi harta-benda dengan cara yang kejam, kemudian karena itu semua lalu timbul pemberontakan hendak menghancurkan dan mengikisnya habis-habis - dapatkah pemberontakan demikian itu kita tuduh dengan fanatisma, dengan tindakan anti kebebasan berpikir? Kalau kita umpamakan, ada suatu bangsa yang sudah puas dengan sistem sosial yang rendah ini dan sudah hampir pula menular sampai ke negara-negara lain, lalu negara-negara ini mengumumkan perang, dapat juga dibenarkan? Bukankah ini lebih-lebih dapat dibenarkan daripada Perang Dunia yang baru lalu yang telah menelan jutaan penduduk dunia ini tanpa suatu sebab selain karena sifat keserakahan dari pihak negara-negara imperialis?

Revolusi terhadap syirik dibenarkan          
Dan kalau memang sudah begitu adanya, dimana pula nilai kritik para Orientalis itu terhadap ayat-ayat yang sudah pembaca ikuti dari Surah Bara'ah dan terhadap seruan Islam dalam memberantas syirik dan penganut-penganutnya yang berusaha hendak menegakkan suatu sistem dengan segala akibatnya yang berbahaya seperti yang kita sebutkan tadi?

Kalau ini sudah merupakan suatu kenyataan sejarah sehubungan dengan sistem yang berlaku di tanah Arab di bawah naungan panji syirik dan paganisma, maka juga di sana ada suatu kenyataan lain dalam sejarah yang bersumber dari kehidupan Rasul. Sejak ia diutus Tuhan mengemban Risalah selama tigabelas tahun, dengan segala susah-payah ia mengorbankan segalanya, mengajak orang ke dalam agama Allah dengan memberikan bukti dan mengajak mereka berdiskusi dengan cara yang baik. Semua peperangan dan ekspedisi yang dilakukannya, sekali-kali tidak bersifat agresi, melainkan selalu mempertahankan sifatnya, mempertahankan kaum Muslimin, mempertahankan kebebasan mereka melakukan dakwah agama, agama yang sudah mereka imani, mereka mengorbankan hidup mereka untuk agama itu.

Seruan yang tegas dan sudah cukup jelas, bahwa orang-orang musyrik itu patut dilawan - karena mereka kotor, mereka tidak dapat memegang janji dan piagam perianjian, mereka tidak lagi dapat memegang sesuatu amanat dan pertalian keluarga dengan orang-orang beriman - ayat-ayatnya turun pada akhir ekspedisi Nabi ke Tabuk. Apabila Islam turun disuatu daerah dengan kehidupan paganisima yang sedang luas menjalar, dan berusaha hendak menanamkan suatu sistem sosial dan ekonomi yang begitu merusak yang sudah ada di semenanjung itu tatkala Nabi diutus, lalu datang kaum Muslimin mengajak mereka supaya meninggalkan cara semacam itu dan mari mengambil apa yang dibenarkan Tuhan dan meninggalkan apa yang dilarangNya - tidak juga mereka mau patuh - maka buat orang yang jujur tidak bisa lain ia mesti berontak terhadap mereka, memberantas mereka sampai ajaran Tuhan ini selesai, dan yang tersebar luas hanya keadilan dan keimanan kepada Allah.

Ayat-ayat Bara'ah (At-Taubah) yang dibacakan oleh Ali itu, demikian juga seruannya kepada orang banyak, bahwa orang kafir tidak akan masuk surga, bahwa sesudah tahun ini tidak dibenarkan lagi orang musyrik melakukan ibadah haji dan melakukan tawaf di Ka'bah dengan telanjang - telah membawa hasil yang baik sekali. Sikap ragu yang tadinya tertanam dalam hati kabilah-kabilah, yang selama itu masih lambat-lambat akan menerima ajakan Islam - telah hilang samasekali.

'Amir bin't-Tufail          
Dengan demikian negeri-negeri seperti Yaman, Mahra, Bahrain dan Yamama masuk Islam. Sudah tak ada lagi pihak yang akan mengadakan perlawanan kepada Muhammad kecuali sejumlah kecil, yang karena kecongkakannya malah berbuat dosa dan tertipu oleh golongannya sendiri, diantaranya 'Amir bin't-Tufail, yang pergi bersama-sama dengan perutusan Banu 'Amir yang hendak berlindung dibawah bendera Islam. Tetapi setelah berhadapan dengan Nabi, 'Amir menolak dan tidak mau menenma Islam. Ia ingin supaya ia dijadikan sekutu Nabi. Nabi masih berusaha meyakinkan supaya dia menerima Islam. Tetapi ia tetap menolak. Kemudian sambil keluar ia berkata:

"Kota ini akan saya hujani dengan pasukan berkuda dan tentara untuk melawan kamu."

Lalu kata Muhammad: "Allahumma ya Allah! Lindungi aku dari perbuatan 'Amir bin't-Tufail!"

'Amir pun lalu pergi hendak menuju kabilahhya. Tetapi di tengah perjalanan itu tiba-tiba ia terserang penyakit sampar di leher sampai ia menemui ajalnya ketika ia sedang berada di rumah seorang wanita dari Banu Salul. Ketika akan menemui ajalnya berulang-ulang ia berkata: "Oh Banu 'Amir! Ini penyakit kelenjar seperti penyakit serdi pada unta dan mati pula di rumah wanita Banu Salul!"

Juga Arbad b. Qais, ia tidak mau menerima Islam, ia kembali ke Banu 'Amir. Tetapi belum lama tinggal di tempat itu ia mati terbakar disambar petir, tatkala ia pergi naik unta yang akan dijualnya. Sungguh pun begitu, penolakan 'Amir dan Arbad ini tidak mengalangi golongannya untuk masuk Islam. Yang lebih jahat lagi dari mereka itu semua ialah Musailima ibn Habib. la datang bersama-sama dengan perutusan Banu Hanifa dari Yamama. Oleh rombongan itu ia ditinggalkan di belakang dengan barang-barang, dan mereka pergi menemui Rasulullah. Ketika itulah mereka semua masuk Islam, dan oleh Nabi mereka diberi hadiah. Juga mereka menyebut-nyebut tentang Musailima, yang oleh Nabi kemudian juga diberi hadiah seperti mereka, dengan katanya: "Dia tidak lebih buruk kedudukannya di kalangan kamu," yakni karena dia menjagakan barang-barang teman-temannya. Tetapi mendengar kata-kata itu dari mereka Musailima lalu mendakwakan dirinya nabi, dan menduga bahwa Tuhan mempersekutukannya dengan Muhammad dalam kenabian itu. Kepada masyarakat golongannya ia bersajak7 dan menggunakan kata-kata dengan mencoba-coba hendak meniru-niru Qur'an: "Tuhan memberikan kenikmatan kepada yang bunting. Yang mengeluarkan nyawa bergerak. Dari antara kulit bawah dengan isi lambung"8

Musailima menghalalkan minuman keras dan perzinaan dan membebaskan golongannya dari sembahyang. Ia aktif sekali mengajak orang supaya mempercayainya. Selain mereka ini, orang-orang Arab dari segenap pelosok jazirah datang berduyun-duyun menyambut agama Allah, dipimpin oleh orang-orang terpandang dan terhormat semacam Adi b. Hatim dan 'Amir b. Maidi Karib. Raja-raja Himyar juga telah mengutus orang membawa surat kepada Nabi menyatakan diri mereka masuk Islam. Nabi pun menetapkan dan berkirim pula surat kepada mereka mengenai hak dan kewajiban mereka menurut syariat Allah.

Perjuangan dalam Islam dan alasannya          
Sesudah lslam tersebar di bagian selatan semenanjung, Muhammad mengutus orang-orang yang mula-mula dalam Islam supaya dapat mengajarkan hukum dan memperdalam dan menguatkan agama mereka.

Kita tidak akan lama-lama berhenti pada masalah perutusan orang-orang Arab kepada Nabi itu seperti yang biasa dilakukan oleh penulis-penulis dahulu, sebab masalahnya hampir sama, mereka semua bernaung di bawah bendera Islam. Ibn Sa'd dalam At-Tabaqat 'l-Kubra telah mengkhususkan 50 halaman besar mengenai perutusan-perutusan Arab ini saja kepada Rasul. Kiranya cukup disini kita menyebutkan nama-nama kabilah dan anak-kabilah yang punya perutusan. Utusan-utusan itu datang dari: Muzaina, Asad, Tamim, 'Abs, Fazara, Murra, Tha'laba, Muharib, Sa'd b. Bakr, Kilab, Ru'as b. Kilab, 'Uqail b. Ka'b, Ja'da, Qusyair b. Ka'b, Banu'l-Bakka', Kinana, Asyja', Bahila, Sulaim, Hilal b. 'Amir, 'Amir b. Sha' sha'a dan Thaqif. Utusan-utusan Rabi'a datang dari 'Abd'l-Qais, Bakr b. Wa'il, Taghlib, Hanifa dan Syaiban. Dari Yaman datang utusan-utusan: Tayy Tujib, Khaulan, Ju'fi, Shuda', Murad, Zubaid, Kinda, Shadif, Khusyain, Sa'd Hudhail, Bali, Bahra', Udhra, Salaman, Juhaina, Kalb, Jarm, Azd, Ghassan Harith b. Ka'b, Hamdan, Sa'd'l-Asyira, 'Ans, Dar, Raha, [dari daerahMadhhij], Ghamid, Nakha', Bajila, Khath'am, Asy'ari, Hadzramaut, Azd 'Uman, Ghafiq, Bariq, Daus, Thumala, Hudan, Aslam, Judham, Muhra, Himyar, Najran dan Jaisyah. Demikian seterusnya, tiada sebuah kabilah atau anak-kabilah di Semenanjung itu yang tidak masuk Islam, kecuali yang sudah kita sebutkan di atas. Demikian juga orang-orang musyrik penduduk jazirah itu, mereka berlumba-lumba masuk Islam, dan dengan sendirinya meninggalkan penyembahan berhala. Sekarang seluruh tanah Arab sudah bersih dari berhala-berhala dengan segala penyembahannya. Sesudah perjalanan ke Tabuk, selesailah semua itu secara sukarela dan atas kemauan sendiri, tanpa bersusah payah atau pertumpahan darah.

Sekarang apa yang dilakukan pihak Yahudi dan pihak Nasrani terhadap Muhammad, dan apa pula yang dilakukan Muhammad terhadap mereka? 
 
 
Sumber :  http://www.sejarahnabi.net/2010/09/bab-xxviii-tahun-perutusan.html

Sejarah Nabi Muhammad SAW ( 27 )................

Ketentuan Zakat dan Kharaj - Berita Rumawi - Seruan  Muhammad  menghadapi  Rumawi - Mereka yang tinggal di belakang dan orang-orang Munafik - Muhammad  bersikap  tegas - Tentara Rumawi - Perjanjian dengan Yohanna dan para amir perbatasan - Jalan ke Syam yang panas membakar - Ibrahim sakit - Muhammad meratapi kematian Ibrahim - Catatan kaki.
 

Sejarah peperangan di Tabuk dan kematian putera kesayangan Nabi Muhammad yang bernama Ibrahim.

Ketentuan Zakat dan Kharaj          
PERISTIWA rumah-tangga serta ketegangan dan kegelisahan yang timbul antara Nabi dengan isteri-isterinya tidak sampai mengubah segala sesuatu mengenai masalah-masalah umum. Setelah Mekah dibebaskan dan penduduk kota itu menerima Islam, sekarang masalah-masalah umum itu sudah terasa makin penting sekali. Seluruh masyarakat Arab sudah mulai merasakan betapa pentingnya hal itu. Rumah Suci itu sudah merupakan tempat suci buat orang Arab, tempat mereka berziarah sejak berabad-abad lamanya. Rumah Suci ini dan segala sesuatunya yang berhubungan dengan itu - penjagaan, penyediaan makanan dan air serta hal-hal yang berhubungan dengan masalah haji dari pelbagai macam upacara - sekarang berada di tangan Muhammad dan di bawah undang-undang agama baru ini. Sudah tentu sekali dengan dibebaskannya Mekah masalah-masalah umum di kalangan Muslimin akan jadi bertambah, dan kaum Muslimin pun akan bertambah pula merasakan akan adanya pengaruh mereka di segala pelosok jazirah. Dengan bertambahnya masalah-masalah umum ini dengan sendirinya akan bertambah pula pengeluaran-pengeluaran masyarakat umum itu.

Oleh karena itu kaum Muslimin harus mengeluarkan zakat 'usyr1 dan orang-orang Arab yang masih bertahan dengan jahiliahnya diharuskan pula membayar kharaj (pajak tanah). Hal ini menimbulkan kegelisahan di kalangan mereka; kadang mereka menggerutu, bahkan lebih dari hanya sekadar menggerutu. Akan tetapi, peraturan baru yang berhubungan dengan agama baru ini, soal pemungutan 'usyr dan kharaj di seluruh jazirah belum merupakan suatu jalan ke luar. Untuk maksud itu Muhammad kemudian mengutus sahabat-sahabatnya - tak lama setelah ia kembali dari Mekah - untuk memungut 'usyr dari penghasilan para kabilah yang sudah beragama Islam tanpa mengusik-usik modal pokok. Mereka semua itu berangkat menuju tujuannya masing-masing, dan para kabilah itu pun menyambut mereka dengan ramah sekali dan zakat 'usyr itu pun dibayarnya dengan segala senang hati. Tak ada pihak yang mau mengelak dari itu selain daripada anak-suku dari Banu Tamim dan Banu'l-Mushtaliq. Sementara zakat 'usyr itu dikenakan kepada kabilah-kabilah dekat kabilah Banu Tamim yang mereka laksanakan berupa ternak dan harta, tiba-tiba Banu'l-'Anbar [anak suku Banu Tamim], sebelum mereka itu dimintai zakat, mereka sudah siap membawa tombak dan pedang mengusir petugas itu dari daerahnya.

Setelah berita ini disampaikan kepada Muhammad, ia segera menugaskan 'Uyaina b. Hishn memimpin lima puluh orang anggota pasukan berkuda. Mereka diserbu dengan tiada setahu mereka dan mereka pun lari tunggang-langgang. Lebih dari limapuluh orang terdiri dari laki-laki, wanita dan anak-anak menjadi tawanan, dan mereka ini dibawa pulang ke Medinah. Tawanan itu oleh Nabi dipenjarakan. Di kalangan Banu Tamim ini sudah ada sejumlah kaum Muslimin yang pernah ikut berperang di samping Nabi dalam membebaskan Mekah dan di Hunain. Yang sebagian lagi masih tetap dalam jahiliah.

Setelah mengetahui apa yang terjadi terhadap kawan-kawan mereka dari Banu'l-'Anbar itu, mereka mengirimkan utusan ke Medinah, terdiri dari pemuka-pemuka mereka sendiri. Bila mereka sudah sampai di mesjid, mereka memanggil-manggil Nabi dari luar kamar: Muhammad, keluarlah ke mari. Panggilan mereka ini sangat mengganggu Nabi. Sebenarnya ia tidak akan keluar menemui mereka, kalau tidak karena terdengar suara azan sembahyang lohor. Begitu mereka melihat Nabi, segera mereka melaporkan apa yang telah dilakukan 'Uyaina terhadap golongan mereka itu. Juga mereka melaporkan tentang beberapa orang yang sudah masuk Islam dan pernah berjuang di sampingnya, selanjutnya dikatakan betapa kedudukan mereka itu di tengah-tengah masyarakat Arab.

"Kami kemari hendak berlumba," kata mereka lagi. "Berilah ijin kepada penyair dan orator kami."

Kemudian juru pidato mereka, 'Utarid b. Hajib berpidato. Setelah selesai, Rasulullah memanggil Thabit b. Qais untuk membalasnya. Seterusnya penyair mereka, Az-Zabriqan b. Badr membacakan sajak-sajak yang kemudian dibalas oleh Hassan b. Thabit. Setelah selesai perlombaan itu, 'Afra' b. Habis berkata: Orang ini memang tepat sekali. Oratornya lebih ulung dari orator kita, penyairnya juga lebih pandai dari penyair kita dan suara mereka lebih nyaring dari suara kita. Dan rombongan itu pun menerima Islam. Tawanan-tawanan itu oleh Nabi dibebaskan dan dikembalikan kepada mereka.

Ada pun Banu Mushtaliq, begitu mereka melihat pemungut zakat dan pajak, mereka lari ketakutan. Kemudian mereka mengutus orang kepada Nabi melaporkan, bahwa adanya kekuatiran yang tidak pada tempatnya itu telah menimbulkan adanya salah paham.

Pengaruh Muhammad kini sudah mulai terasa sampai ke pelosok-pelosok jazirah. Setiap ada golongan atau kabilah yang mencoba-coba hendak melawan pengaruh itu, Nabi sudah siap pula mengirimkan kekuatan ke sana dan mengharuskan mereka tunduk membayar kharaj dengan tetap dalam kepercayaan mereka, atau sebagai orang Islam dengan membayar zakat.

Berita Rumawi          
Sementara perhatiannya sedang diarahkan ke seluruh jazirah Arab supaya jangan lagi ada pihak yang akan dapat menggoyahkan, dan keamanan di seluruh wilayah itu benar-benar aman sampai ke pelosok-pelosok, tiba-tiba ada berita sampai kepadanya dari pihak Rumawi, bahwa negara itu sedang menyiapkan sebuah pasukan tentara yang hendak menyerang perbatasan tanah Arab sebelah utara, dengan suatu serangan yang akan membuat orang lupa akan penarikan mundur yang secara cerdik dilakukan pihak Arab di Mu'ta dulu itu. Juga akan membuat orang lupa akan pengaruh Muslimin yang deras maju ke segenap penjuru yang hendak membendung kekuasaan Rumawi di Syam dan kekuasaan Persia di Hira. Berita itu tiba sudah begitu konkrit. Ia tidak lagi ragu-ragu dalam mengambil kesempatan ini. Ia hendak menghadapi sendiri kekuatan itu dan akan menghancurkannya sekali dengan mengikis habis setiap harapan dalam hati pemimpin-pemimpin mereka yang bermaksud hendak menyerang dan mengganggu kawasan itu.

Ketika itu musim panas belum berakhir. Suhu panas musim pada awal musim rontok yang sampai pada titik yang sangat tinggi itu merupakan musim maut yang sangat mencekam di wilayah padang pasir. Di samping itu memang perjalanan dari Medinah ke Syam, selain perjalanan yang panjang juga sangat sukar sekali ditempuh. Perlu ada keuletan, persediaan bahan makanan dan air. Jadi, tidak ada jalan lain Muhammad harus memberitahukan niatnya hendak berangkat menghadapi Rumawi itu kepada umum; supaya mereka juga bersiap-siap. Tidak ada jalan lain juga harus menyimpang pula dari kebiasaannya dalam ekspedisi-ekspedisinya yang sudah-sudah, yang dalam memimpin pasukannya sering ia menuju ke jurusan lain daripada yang sebenarnya dituju, untuk menyesatkan pihak musuh supaya berita perjalanannya itu tidak diketahui.

Seruan  Muhammad  menghadapi  Rumawi          
Kemudian Muhammad menyerukan kepada semua kabilah bersiap-siap dengan pasukan yang sebesar mungkin. Orang-orang kaya dari kalangan Muslimin juga dimintanya supaya ikut serta dalam menyiapkan pasukan itu dengan harta yang ada pada mereka serta mengerahkan orang supaya sama-sama menggabungkan diri ke dalam pasukan itu. Dengan demikian, itu akan berarti sekali sehingga dapat membawa rasa cemas kedalam jiwa pihak Rumawi, yang sudah terkenal oleh banyaknya jumlah orang dan besarnya perlengkapan.

Bagaimana gerangan kaum Muslimin menyambut seruan ini, yang berarti harus meninggalkan isteri, anak dan harta-benda, dalam panas musim yang begitu dahsyat, dalam mengarungi lautan tandus padang sahara, kering, air pun tak seberapa, kemudian harus pula menghadapi musuh yang sudah mengalahkan Persia, dan belum dapat dikalahkan oleh kaum Muslimin? Akan tetapi iman mereka, kecintaan mereka kepada Rasul, serta kemesraan kepada agama, mereka pun terjun menyambut seruan itu, berangkat dalam satu arak-arakan yang rasanya dapat menyempitkan ruang padang sahara itu, sambil mengerahkan semua harta dan ternak mereka, siap dengan senjata ditangan, dengan debu yang sudah mengepul, yang begitu sampai beritanya kepada musuh, mereka akan lari tunggang-langgang. Ataukah barangkali perjalanan yang begitu sulit itu, di bawah lecutan udara panas, dibawah ancaman lapar dan haus, mereka akan jadi enggan dan kembali surut?

Mereka yang tinggal di belakang dan orang-orang Munafik          
Dua perasaan itu di kalangan Muslimin ada pada waktu itu. Ada yang menyambut agama ini dengan hati yang bersemarak cahaya dan bimbingan Tuhan, hati yang sudah berkilauan cahaya iman, dan ia sudah tidak mengenal yang lain. Ada yang masuk agama dengan suatu harapan, dan dengan rasa gentar. Mereka mengharapkan harta rampasan perang, karena kabilah-kabilah itu sudah tak berdaya menahan serbuan Muslimin, lalu mereka menyerah dan bersedia membayar jizya2 dengan taat dan patuh. Yang merasa gentar karena kekuatan ini dapat menghantam kekuatan lain yang merintanginya, dan ditakuti kekuasaannya oleh setiap raja. Golongan pertama, dengan segera mereka itu berbondong-bondong menyambut seruan Rasulullah. Ada orang miskin dari mereka itu, tidak ada binatang beban yang akan ditungganginya, ada pula orang yang kaya raya, menyerahkan semua harta kepadanya untuk diserahkan kepada perjuangan di jalan Allah, dengan hati ikhlas, dengan harapan akan gugur pula sebagai syahid di sisi Tuhan. Sedang yang lain masih berat-berat langkah dan mulai mereka itu mencari-cari alasan, sambil berbisik-bisik sesama mereka dan mencemooh ajakan Muhammad kepada mereka untuk menghadapi suatu peperangan yang jauh, dalam udara yang begitu panas membakar.

Itulah mereka orang-orang munafik, yang karenanya Surah At-Taubah turun, yang berisi ajakan perjuangan yang paling besar dan tegas-tegas menyampaikan ancaman Tuhan kepada mereka yang membelakangi ajakan Rasulullah.

Ada sekelompok orang-orang munafik yang berkata satu sama lain: Jangan kalian berangkat perang dalam udara panas. Maka firman Tuhan ini turun: "É dan mereka berkata: "Jangan kamu berangkat perang dalam udara panas begini.' Tapi katakanlah: 'Api neraka lebih panas lagi, kalau kamu mengerti! Biarlah mereka tertawa sedikit dan menangis lebih banyak sebagai balasan atas hasil perbuatan mereka." (Qur'an, 9: 81-82)

Kata Muhamnmad kepada Jadd b. Qais - salah seorang Banu Salima: "Hai Jadd, engkau bersedia tahun ini menghadapi Banu'l Ashfar?"

"Rasulullah," kata Jadd. "Ijinkanlah saya untuk tidak dibawa ke dalam ujian serupa ini. Masyarakat saya sudah cukup mengenal, bahwa tak ada orang yang lebih berahi terhadap wanita seperti saya ini. Kuatir saya, bahwa kalau saya melihat wanita-wanita Banu'l-Ashfar, saya takkan dapat menahan diri." [Banu'lAshfar ialah bangsa Rumawi].

Oleh Rasulullah ia ditinggalkan. Dalam hubungan ini ayat berikut ini turun: "Ada pula di antara mereka yang berkata: 'Ijinkanlah saya (tidak ikut serta) dan jangan kaubawa saya ke dalam ujian ini.' Ya, ketahuilah, mereka kini sudah terjatuh ke dalam ujian itu, dan bahwa neraka itu melingkungi orang-orang kafir." (Qur'an, 9:49)

Muhammad  bersikap  tegas          
Orang-orang yang memang sudah membawa bibit-bibit kebencian dalam hatinya kepada Muhammad, mereka mengambil kesempatan dalam peristiwa ini supaya orang-orang munafik itu tambah munafik dan menghasut orang supaya tinggal di belakang medan perang. Muhammad melihat bahwa mereka itu tak dapat diberi hati, kuatir nanti akan merajalela. Ia berpendapat akan mengambil tindakan terhadap mereka dengan tangan besi. Ia mengetahui, bahwa banyak orang berkumpul di rumah Sulaim orang Yahudi itu. Mereka mau mengalang-alangi orang, mau menanamkan rasa enggan dalam hati orang dan supaya mereka tinggal saja di garis belakang. Didampingi oleh beberapa orang sahabat ia mengutus Talha b. 'Ubaidillah kepada mereka dan rumah Sulaim itu dibakar. Salah seorang dari mereka patah kakinya ketika ia melarikan diri dari dalam rumah itu. Yang lain-lain langsung menerobos api itu dan dapat meloloskan diri.

Tetapi mereka sudah tidak lagi mengulangi perbuatan semacam itu. Bahkan itu menjadi contoh buat yang lain. Sesudah itu tak ada lagi orang berani melakukan perbuatan demikian.

Tindakan tegas terhadap orang-orang munafik itu ada juga bekasnya. Dalam mempersiapkan pasukan itu orang-orang kaya dan orang-orang berada telah pula datang menyumbangkan hartanya dalam jumlah yang cukup besar. Usman b. 'Affan saja sendiri menyumbang seribu dinar, dan banyak lagi yang lain, masing-masing menurut kemampuannya. Setiap orang yang mampu tampil dengan perlengkapan dan biaya sendiri pula. Orang-orang yang tidak punya juga banyak yang datang ingin dibawa serta oleh Nabi. Mereka yang mampu oleh Nabi dibawa, sedang kepada yang lain ia berkata: "Dalam hal ini saya tidak mendapat kendaraan yang akan dapat membawa kamu."

Dengan demikian mereka pun kembali, kembali dengan bercucuran airmata. Mereka sedih, karena tak ada pula yang dapat mereka sumbangkan. Karena tangisan mereka itu mereka diberi nama Al-Bakka'un (orang-orang yang menangis). Pasukan yang sudah berkumpul mendampingi Muhammad ini - yang disebut Pasukan 'Usra karena kesukaran yang dialami sejak mulai dibangun - sebanyak tigapuluh ribu Muslimin. Dalam menunggu Muhammad kembali dari mengurus beberapa masalah di Medinah, sementara dia tidak ada, di tengah-tengah pasukan yang sudah berkumpul itu Abu Bakrlah yang bertindak sebagai imam sembahyang.

Sekarang, setelah masalah-masalah dalam kota diserahkan kepada Muhammad b. Maslama; dan Ali b. Abi Talib diserahi urusan keluarga dan disuruhnya ia tinggal dengan mereka. Setelah segala sesuatunya sudah dianggap beres, ia pun kembali ke tempat semula memimpin pasukan. Ketika itu Abdullah b. Ubayy juga sudah siap dengan sebuah pasukan terdiri dari golongannya sendiri, akan berangkat disamping pasukan Muhammad. Akan tetapi menurut Nabi, Abdullah dan pasukannya itu supaya tetap di Medinah saja karena selain kurang dapat dipercaya imannya juga ia tidak kuat.

Setelah mendapat perintah, pasukan itu pun berangkat, debu dan pasir halus mengepul-ngepul ke udara diselingi oleh ringkik kuda. Wanita-wanita Medinah pergi naik ke atas loteng hendak menyaksikan pasukan tentara yang dahsyat ini, berangkat hendak menerobos padang sahara menuju ke arah Syam; yang demi di jalan Allah, tidak mereka pedulikan lagi udara panas, rasa dahaga dan lapar, dengan meninggalkan mereka yang mau duduk-duduk dan tinggal di belakang, orang-orang yang lebih suka tinggal di tempat yang teduh dan bersenang-senang daripada suatu ujian iman dan perkenanan Tuhan. Pasukan tentara yang telah didahului oleh sepuluh ribu pasukan berkuda serta kaum wanita yang begitu terpesona menyaksikan segala kebesaran dan kekuatan itu, suasananya telah dapat menggerakkan hati beberapa orang yang tadinya surut dalam menerima ajakan Rasul dan tidak mau ikut. Demikian juga Abu Khaithama, setelah melihat suasana itu ia kembali pulang. Kedua orang isterinya dijumpainya masing-masing sedang menyirami tempat ia berteduh dan sedang mendinginkan air minum dan menyediakan makanan buat dia. Setelah dilihatnya apa yang dilakukan wanita itu ia berkata: "Rasulullah dalam terik matahari, angin dan udara panas, sedang Abu Khaithama di tempat yang teduh, sejuk dengan makanan dan wanita cantik diam di rumah. Sediakan perbekalanku, aku akan menyusul."

Setelah bekal yang diperlukan disediakan, ia pun pergi menyusul pasukan tentara. Mungkin masih ada juga sekelompok orang yang tinggal di belakang telah pula mengikuti jejak Abu Khaithama, setelah mereka menyadari bahwa tindakan mereka yang hendak mengelak dan takut-takut itu suatu tindakan tercela dan hina.

Dalam perjalanannya tentara itu sudah sampai di Hijr. Di tempat ini terdapat pula puing-puing bekas rumah-rumah kaum Thamud yang terukir pada batu besar. Di tempat itu mereka oleh Rasulullah diperintahkan berhenti. Orang-orang pun mulai mengambil air dari sumur. Setelah selesai, kata Rasul kepada mereka: "Jangan ada yang minum air sumur ini, juga jangan dipakai berwudu untuk sembahyang. Bila sudah ada adonan yang kamu buat dengan air itu berikanlah kepada ternak dan samasekali jangan kamu makan. Juga jangan ada yang keluar malam ini kalau tidak disertai seorang teman."

Soalnya tempat itu tiada pernah dilalui orang dan kadang timbul angin badai berupa pasir yang dapat menimbun manusia atau binatang. Malam itu ada dua orang yang keluar diluar perintah Rasul. Salah seorang daripada mereka dibawa angin dan yang seorang lagi tertimbun pasir. Keesokan harinya orang melihat pasir itu telah menimbuni sumur sehingga air tidak ada lagi. Orang jadi takut akan kehausan lebih ngeri lagi karena perjalanan masih panjang. Akan tetapi, sementara mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datang awan membawa hujan dan mereka pun kini mendapat air berlimpah-limpah. Perasaan takut hilang dan mereka semua bergembira. Ada mereka yang berkata satu sama lain, bahwa itu suatu mujizat. Sedang yang lain mengatakan itu hanya awan lalu.

Tentara Rumawi          
Setelah itu pasukan tentara itu meneruskan perjalanan ke Tabuk. Sebenarnya tentang pasukan ini dan kekuatannya beritanya sudah sampai kepada pihak Rumawi. Oleh karena itu ia lebih suka menarik mundur pasukannya yang tadinya sudah ditujukan ke perbatasan dengan maksud hendak melindungi daerah Syam dengan benteng-bentengnya itu. Setelah pihak Muslimin sampai di Tabuk dan Muhammad mengetahui pihak Rumawi menarik diri dan berada dalam ketakutan, dirasa sudah tidak pada tempatnya akan mengejar mereka terus sampai ke dalam negeri mereka.

Oleh karena itu ia tetap tinggal di perbatasan, akan menghadapi siapa saja yang akan menyerang atau melawannya. Ia berusaha menjaga perbatasan-perbatasan itu supaya jangan ada pihak yang melandanya.

Perjanjian dengan Yohanna dan para amir perbatasan          
Ketika itulah Yohanna bin Ru'ba - seorang amir (penguasa) Aila3 yang tinggal di perbatasan oleh Nabi telah dikirimi surat supaya ia tunduk atau akan diserbu. Yohanna datang sendiri dengan memakai salib dari emas di dadanya. Ia datang dengan membawa hadiah dan menyatakan setia. Ia mengadakan perdamaian dengan Muhammad dan bersedia membayar jizya seperti yang juga dilakukan oleh pihak Jarba'4 dan Adhruh5 dengan membayar jizya. Di samping itu Rasulullah telah pula membuat surat-surat perjanjian perdamaian dengan mereka. Berikut ini salah satu bunyi teks itu, yakni yang dibuat dengan Yohanna:

"Atas nama Allah, Pengasih dan Penyayang. Surat ini ialah perjanjian keamanan atas nama Tuhan dari Muhammad, Nabi Utusan Allah kepada Yohanna ibn Ru'ba serta penduduk Aila, atas kapal-kapal dan kendaraan-kendaraan dalam perjalanan mereka di darat dan di laut, mereka berada dalam jaminan Allah dan Muhammad, termasuk mereka penduduk Syam, penduduk Yaman dan penduduk pantai laut. Barangsiapa melakukan suatu pelanggaran maka selain dirinya, hartanya itu tidak akan dapat melindunginya dan Muhammad dibenarkan mengambil itu dari mereka. Mereka tidak boleh dirintangi dari air yang dikehendaki atau jalan yang akan ditempuhnya, di darat atau di laut."

Sebagai tanda persetujuan atas perjanjian ini Muhammad telah pula memberikan hadiah kepada Yohanna berupa mantel tenunan Yaman disertai perhatian penuh kepadanya, setelah diperoleh persetujuan bahwa Aila akan membayar jizya sebesar 3000 dinar tiap tahun.

Muhammad sebenarnya sudah tidak perlu lagi berperang setelah pihak Rumawi menarik diri, dan telah dibuat perjanjian dengan daerah-daerah yang terletak di perbatasan dan karena sudah merasa aman setelah pula balatentara Bizantium kembali dari wilayah itu, kalau tidak karena lalu timbul suatu kekuatiran baru. Pihak Ukaidir b. 'Abd'l-Malik al-Kindi orang Nasrani, Penguasa Duma6 itu akan memberontak dengan mendapat bantuan balatentara Rumawi bilamana mereka datang dari jurusan itu. Itu sebabnya Nabi lalu menugaskan Khalid bin'l-Walid dengan sebuah pasukan berkuda terdiri dari 500 orang. Dia sendiri berbalik dengan pasukannya kembali ke Medinah.

Dengan cepat sekali Khalid terjun menyusur ke Duma dengan tidak setahu penguasa itu, yang dalam malam terang bulan dengan disertai saudaranya yang bernama Hassan, sedang sama-sama memburu lembu liar. Khalid tidak mendapat perlawanan yang berarti. Hassan terbunuh dan Ukaidir ditawan. Ia diancam akan dibunuh kalau pintu gerbang Duma tidak dibuka. Oleh karena itu pintu-pintu kota kemudian dibuka sebagai tebusan atas diri sang amir. Dari tempat ini Khalid kemudian dapat mengangkut sebanyak duaribu ekor unta, delapan ratus ekor kambing, empat ratus wasq (muatan) gandum dan empat ratus buah pakaian besi. Semua itu diangkutnya bersama-sama dengan Ukaidir sampai dapat menyusul Nabi di Ibukota. Muhammad menawarkan Islam kepada Ukaidir yang kemudian diterimanya dan ia pun menjadi pula sekutunya.

Jalan ke Syam yang panas membakar          
Muhammad kembali dengan memimpin ribuan anggota Pasukan 'Usra ini dari perbatasan Syam ke Medinah, bukanlah soal yang ringan. Mereka itu kebanyakan tidak mengerti makna persetujuan yang telah diadakan dengan amir Aila dan negeri-negeri tetangganya, Juga mereka tidak menganggap begitu penting persetujuan-persetujuan yang telah dibuat oleh Muhammad guna menjamin keamanan di perbatasan seluruh jazirah itu serta dibangunnya benteng-benteng di tempat-tempat itu sebagai perbatasan dengan pihak Rumawi. Sebaliknya yang dapat mereka lihat hanyalah, bahwa mereka menempuh jalan yang sulit dan panjang ini, dengan mengalami gangguan-gangguan, kemudian kembali tanpa membawa rampasan, tanpa membawa tawanan perang, bahkan berperang juga tidak. Segala yang dapat mereka lakukan hanyalah tinggal di Tabuk selama hampir duapuluh hari.

Jadi, hanya untuk inikah mereka mengarungi padang sahara di bawah tekanan panas musim yang dahsyat, sementara buah-buahan di Medinah sudah mulai masak, dan orang sudah pula dapat menikmatinya? Ada segolongan orang yang lalu mengejek apa yang telah dilakukan Muhammad itu. Orang yang memang sudah teguh imannya, menyampaikan kabar ini kepadanya. Ia mengambil tindakan terhadap orang-orang yang mengejeknya itu, kadang dengan kekerasan, kadang dengan cara lemah-lembut, sementara pasukan tentara meneruskan perjalanan pulang ke Medinah sambil selalu Muhammad menjaga dan mengatur barisan itu.

Tatkala ia sudah sampai di kota, Khalid bin'l-Walid pun menyusul pula sampai. Ia datang bersama dengan Ukaidir yang dibawanya dari Duma, berikut unta, kambing, gandum dan baju-baju besi. Ketika itu Ukaidir mengenakan pakaian lengkap dari sutera berat dengan berumbaikan emas. Penduduk Medinah sangat terpesona melihatnya.

Mereka yang tinggal di belakang tidak mengikutinya merasa gelisah sekali. Mereka yang tadinya mengejek kini mulai sadar sendiri. Mereka datang sekarang sambil membawa dalih minta maaf. Tetapi kebanyakan mereka minta maaf itu disertai kebohongan. Sikap mereka ini oleh Muhammad ditolak, diserahkan kepada kebijaksanaan Tuhan. Tetapi ada tiga orang yang sudah beriman kepada Allah dan kepada Rasul, mereka ini mengakui akan tindakan mereka tinggal di belakang dan mengakui pula dosa mereka. Mereka itu ialah Ka'b b. Malik, Murara bin'r-Rabi' dan Hilal b. Umayya. Karena larangan yang pernah dikeluarkan oleh Muhammad, mereka bertiga itu selama limapuluh hari tidak diajak bicara oleh kaum Muslimin, juga tidak seorang Muslim pun mengadakan hubungan dagang dengan mereka. Tetapi Tuhan kemudian mengampuni mereka bertiga, dan firman Tuhan ini turun:

"Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang telah mengikuti Nabi pada masa kesulitan ('usra) setelah ada sebahagian mereka yang hampir menyimpang hatinya. Tetapi kemudian Tuhan menerima taubat mereka. Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada mereka. Juga terhadap tiga orang yang tinggal di belakang, sehingga bumi yang seluas ini terasa sempit oleh mereka, napas mereka pun terasa sesak, dan mereka sudah mengerti, bahwa tak ada tempat berlindung dari siksa Tuhan selain kepada Tuhan juga. Kemudian Allah menerima taubat mereka supaya mereka selalu bertaubat. Dan Allah Maha Penerima segala taubat dan Maha Pengasih." (Qur'an, 9:117-118)

Sejak itu Muhammad bersikap tegas terhadap orang-orang Munafik, suatu sikap yang tidak biasa mereka alami sebelumnya. Soalnya ialah karena jumlah kaum Muslimin sudah bertambah banyak. Tingkah-laku kaum Munafik terhadap mereka akan berbahaya sekali dan sangat dikuatirkan. Oleh karena itu perlu diatasi. Muhammad memang sudah yakin sekali - setelah janji Tuhan akan memberikan kemenangan kepada agama dan perintah Tuhan - bahwa jumlah mereka akan bertambah, akan berlipat-ganda banyaknya dari yang sekarang. Maka ketika itulah orang-orang Munafik akan merupakan bahaya besar. Keadaan sebelum itu, tatkala Islam masih terbatas dalam kota Medinah dan sekitarnya, segala yang terjadi terhadap kaum Muslimin dia sendiri yang mengawasinya. Tetapi, sesudah agama meluas tersebar ke seluruh jazirah Arab, bahkan sudah hampir meluas keluar, maka setiap kelalaian terhadap orang-orang Munafik itu, berarti akan merupakan suatu bencana yang sangat dikuatirkan akibatnya, akan merupakan bahaya yang cepat sekali akan menjalar jika tidak lekas-lekas pula kuman-kuman itu diberantas.

Ada beberapa orang membuat sebuah mesjid7 di Dhu Awan sejauh satu jam perjalanan dari Medinah. Ke dalam mesjid inilah kelompok orang-orang Munafik itu selalu datang. Mereka berusaha hendak mengubah ajaran Tuhan dari yang sebenarnya. Dengan itu mereka hendak memecah-belah kaum Muslimin dengan menimbulkan bencana dan kekufuran. Kelompok ini meminta kepada Nabi supaya membuka mesjid dan sekalian sembahyang di tempat itu. Permintaan mereka diajukan sebelum peristiwa Tabuk. Oleh Nabi mereka diminta menunggu sampai ia kembali. Tetapi setelah kembali dan mengetahui persoalan mesjid itu serta untuk apa pula tujuan sebenarnya dibangun, oleh Nabi diperintahkan supaya mesjid itu dibakar. Dengan demikian hal itu telah menjadi contoh, yang membuat orang-orang Munafik itu jadi ketakutan. Mereka surut dan menyisihkan diri. Yang akan melindungi mereka pun sudah tak ada lagi selain Abdullah b. Ubayy, ketua dan pemimpin mereka itu.

Hanya saja sesudah Tabuk, Abdullah b. Ubayy ini tidak lama lagi hidupnya. Setelah dua bulan menderita sakit ia mati. Meskipun rasa dengki terhadap Muslimin sudah menggerogoti hatinya sejak Nabi tinggal di Medinah, namun Muhammad lebih suka kaum Muslimin jangan menggangu Ibn Ubayy. Ketika orang ini meninggal dan Nabi diminta menyembahyangkannya, dengan segera pula Nabi pun menyembahyangkan dan mendoakan ketika dikuburkan sampai upacara itu selesai. Dengan matinya Ibn Ubayy sendi kaum Munafik itu juga runtuh. Mereka yang masih ada, sekarang dengan sungguh-sungguh mereka bertaubat kepada Tuhan.

Dengan ekspedisi Tabuk ini maka selesailah amanat Tuhan diajarkan ke seluruh jazirah Arab, dan Muhammad sudah merasa aman dari setiap permusuhan yang akan ditujukan kepada agama. Utusan-utusan dari pelbagai daerah sekarang datang menghadap kepadanya dengan menyatakan sekali kesetiaannya serta mengumumkan pula keislamannya. Ekspedisi sekali ini buat Nabi a.s. merupakan ekspedisi terakhir. Sesudah itu Muhammad menetap di Medinah, menikmati karunia pemberian Tuhan kepadanya. Ibrahim anaknya merupakan jantung hati cindur mata selama enambelas atau delapanbelas bulan. Apabila ia selesai menerima para utusan, mengurus masalah-masalah kaum Muslimin, menunaikan kewajiban kepada Tuhan serta hak kewajiban seluruh keluarga, hatinya merasa sejuk dengan melihat bayi yang selalu berkembang dan baik sekali pertumbuhannya itu. Makin lama makin jelas kesamaannya, yang membuat sang ayah makin cinta dan kasih kepadanya. Sepanjang bulan itu yang menjadi inang pengasuhnya ialah Umm Saif, yang menyusui dan memberikan susu kambing pengasih Nabi dulu itu.

Cinta-kasih Muhammad kepada Ibrahim sebenarnya bukan karena suatu maksud pribadi yang ada hubungannya dengan Risalah yang dibawanya, atau dengan yang akan menjadi penggantinya. Muhammad a.s. dengan imannya kepada Tuhan dan kepada Risalah Tuhan tidak akan memikirkan anak atau siapa yang akan mewarisinya. Bahkan dikatakannya: "Kami para Nabi, tidak dapat diwarisi. Apa yang kami tinggalkan untuk sedekah."

Akan tetapi, rasa kasih insani dalam artinya yang luhur, rasa kasih insani yang begitu dalam tertanam dalam hati Muhammad - yang kiranya tidak akan dicapai oleh siapa pun, rasa insani yang akan membuat manusia Arab memandang anak laki-laki yang akan mewarisinya sebagai sebuah lukisan abadi - rasa kasih inilah yang telah membuat Muhammad mencurahkan semua cintanya kepada Ibrahim, kasih-sayang yang tiada taranya. Dan rasa kasih ini lebih parah merasuk ke dalam hati, karena sebelum itu ia telah kehilangan kedua puteranya - Qasim dan Tahir, - dan keduanya masih bayi dalam pangkuan Khadijah ibunya. Setelah Khadijah wafat ia kehilangan puteri-puterinya pula, satu demi satu, setelah mereka bersuami dan menjadi ibu. Sekarang tak ada lagi yang masih hidup, selain Fatimah. Putera-putera dan puteri-puteri itu, yang satu demi satu berguguran di tangannya dan dengan tangannya sendiri pula ia menguburkan mereka ke dalam pusara, yang telah meninggalkan luka yang begitu pedih dalam hatinya, kini terasa terobat juga dengan lahirnya Ibrahim, tempat buah hati meletakkan segala harapan. Dan sudah sepantasnya pula bila dengan harapan itu ia merasa gembira, merasa bahagia.

Ibrahim sakit          
Tetapi harapan ini tidak berlangsung lama; hanya selama beberapa bulan saja seperti yang sudah kita sebutkan. Sesudah itu Ibrahim jatuh sakit, sakit yang sangat menguatirkan. Ia dipindahkan ke sebuah tempat dengan kebun kurma di samping Masyraba Umm Ibrahim. Maria dan Sirin adiknya selalu menjaga dan merawatnya. Bayi ini tidak lama sakitnya Tatkala ajal sudah dekat dan Nabi diberi tahu, karena rasa sedih yang sangat mendalam, ia berjalan dengan memegang tangan Abdur-Rahman b. 'Auf sambil bertumpu kepadanya. Bila ia sudah sampai ke tempat itu di samping 'Alia - tempat Masyraba yang sekarang - dijumpainya Ibrahim dalam pangkuan ibunya, sedang menarik napas terakhir. Diambilnya anak itu, lalu diletakkannya di pangkuannya dengan hati yang remuk-redam rasanya. Tangannya menggigil. Kalbu yang duka dan pilu rasa mencekam seluruh sanubari. Lukisan hati yang sedih mulai membayang dalam raut wajahnya. Sambil meletakkan anak itu di pangkuan ia berkata: "Ibrahim, kami tak dapat menolongmu dari kehendak Tuhan."

Dalam keadaan hening yang menekan itu kemudian airmatanya berderai bercucuran, sementara anak itu sedang menarik napas terakhir. Sang ibu dan Sirin menangis menjerit-jerit; oleh Rasulullah dibiarkan mereka begitu.

Muhammad meratapi kematian Ibrahim          
Setelah tubuh Ibrahim tiada bergerak lagi, sudah tiada bernyawa, dan dengan kematiannya itu padam pula semua harapan yang selama ini membuka hati Nabi, makin deras pula airmata Muhammad mengucur, sambil ia berkata:

"Oh Ibrahim, kalau bukan karena soal kenyataan, dan janji yang tak dapat dibantah lagi, dan bahwa kami yang kemudian akan menyusul orang yang sudah lebih dahulu daripada kami, tentu akan lebih lagi kesedihan kami dari ini."

Dan setelah diam sejenak, katanya lagi: "Mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka, tapi kami hanya berkata apa yang menjadi perkenan Tuhan, dan bahwa kami, O Ibrahim, sungguh sedih terhadapmu." Muslimin yang melihat Muhammad begitu duka, beberapa orang terkemuka hendak mengurangi hal itu dengan mengingatkannya akan larangannya berbuat demikian. Tapi ia menjawab: "Aku tidak melarang orang berduka cita, tapi yang kularang menangis dengan suara keras. Apa yang kamu lihat dalam diriku sekarang, ialah pengaruh cinta dan kasih didalam hati. Orang yang tiada menunjukkan kasih sayangnya, orang lain pun tiada akan menunjukkan kasih sayang kepadanya." Atau seperti dikatakan juga: Kemudian ia berusaha menahan duka hatinya. Ia memandang Maria dan Sirin dengan pandangan penuh kasih. Kepada mereka dimintanya supaya lebih tenang sambil katanya: "Ia akan mendapat inang pengasuh di surga."

Kemudian setelah ia dimandikan oleh Umm Burda, - sumber lain menyebutkan oleh Fadzl bin'l-'Abbas - dibawa dari rumah itu di atas sebuah ranjang kecil. Nabi dan Abbas pamannya, begitu juga sejumlah kaum Muslimin ikut mengantarkan sampai ke Baqi'. Di tempat itu ia dimakamkan setelah disembahyangkan oleh Nabi. Selesai pemakaman Muhammad minta supaya makam itu ditutup kemudian diratakannya dengan tangannya sendiri. Ia memercikkan air dan memberi tanda di atas kubur itu. Lalu katanya:

"Sebenarnya ini tidak membawa kerugian, juga tidak mendatangkan keuntungan. Tetapi hanya akan menyenangkan hati orang yang masih hidup. Apabila orang mengerjakan sesuatu, Tuhan lebih suka bila dikerjakan secara sempurna."

Bersamaan dengan kematian Ibrahim itu kebetulan terjadi pula matahari gerhana. Kaum Muslimin menganggap peristiwa itu suatu mujizat. Kata mereka matahari gerhana karena Ibrahim meninggal. Hal ini terdengar oleh Nabi.

Karena cintanya yang begitu besar kepada Ibrahim, dan rasa duka yang begitu dalam karena kematiannya, adakah ia lalu merasa terhibur mendengar kata-kata itu, atau setidak-tidaknya akan didiamkan saja, menutup mata melihat orang sudah begitu terpesona karena telah menganggap itu suatu mujizat? Tidak. Dalam keadaan serupa itu, kalau pun ini layak dilakukan oleh mereka yang suka mengambil kesempatan karena kebodohan orang, atau layak dilakukan oleh mereka yang sudah tak sadar karena terlampau sedih, buat orang yang berpikir sehat tentu hal ini tidak layak, apalagi buat Nabi Besar! Muhammad melihat mereka yang mengatakan bahwa matahari telah jadi gerhana karena kematian Ibrahim, dalam khotbahnya kepada mereka ia berkata:

"Matahari dan bulan ialah tanda kebesaran Tuhan, yang tidak akan jadi gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Kalau kamu melihat hal itu, berlindunglah dalam zikir kepada Tuhan dengan berdoa."

Sungguh suatu kebesaran yang tiada taranya. Rasul tidak melupakan risalahnya itu dalam suatu situasi yang begitu gawat, situasi jiwa yang sedang dalam keharuan dan kesedihan yang amat dalam! Kalangan Orientalis dalam menanggapi peristiwa yang terjadi terhadap diri Muhammad ini, tidak bisa lain mereka bersikap hormat dan kagum sekali! Mereka tidak dapat menyembunyikan rasa kekaguman dan rasa hormatnya itu kepadanya. Mereka menyatakan pengakuan mereka tentang kejujuran orang itu, yang dalam situasi yang sangat gawat ia tetap mempertahankan hak dan kejujurannya yang sungguh-sungguh !

Gerangan bagaimana pula perasaan isteri-isteri Nabi melihat kesedihan dan dukacita yang menimpanya begitu mendalam karena kematian Ibrahim itu? Dia sendiri sudah merasa terhibur dengan karunia Tuhan itu dan dapat pula meneruskan tugas menunaikan risalah serta dengan bertambahnya Islam tersebar pada perutusan yang terus-menerus datang kepadanya dari segenap penjuru, sehingga tahun kesepuluh Hijrah ini diberi nama 'Am'lWufud - Tahun Perutusan.' Pada tahun itulah Abu Bakr memimpin orang menunaikan ibadat haji.

Catatan kaki          
1 Zakat 'usyr ialah zakat hasil bumi yang dikenakan 1/10 dari produksi hasil pertanian bila diolah dengan bantuan air hujan atau mata air alam dan 1/20 bila diairi dengan menggunakan tenaga. Ada yang berpendapat, bahwa secara teknis ini bukan zakat, karena yang dikenakan hanya hasilnya (A).
2 Pajak kepala sebagai kompensasi atas setiap non-Muslim di bawah pemerintahan Islam dengan mendapat jarninan keamanan dan dibebaskannya ia dari wajib militer (A).
3 Aila ialah Elath atau 'Aqaba sekarang, di dekat Teluk Aqaba (A).
4 Jarba' sebuah desa di dekat Amman di bilangan Balqa, wilayah Syam.
5 'Adhruh, nama tempat di ujung Syam antara Balqa, dengan Amman, berdekatan dengan Hijaz dan tidak jauh dari Jarba'.
6 Duma, ialah yang dikenal dengan nama Dumat'l-Jandal, terletak sekitar 220 km dari Damsyik ke jurusan Medinah.
7 Mesjid ini dikenal dengan nama 'Masjid Dziral' atau 'Masjid Bencana,' dzirar harfiah berarti 'kerusuhan,' 'kerugian,', 'bahaya' (A).
 
 
Sumber :  http://www.sejarahnabi.net/2010/09/bab-xxvii-tabuk-dan-kematian-ibrahim.html